Pernah merasa kehilangan? Kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupmu? Kehilangan yang aku rasakan beda dengan kehilangan yang aku rasakan ketika kehilangan pacar atau dompet yang isinya uang jajan aku selama satu bulan ketika kuliah dulu. Ya, aku kehilangan seorang ayah, orang yang paling berpengaruh dalam hidupku. Dia pergi untuk selamanya, tepat tanggal 15 januari 2011 kemarin, meninggalkanku dengan ajaran-ajarannya yang masih menjadi jalan hidup yang aku pilih. Menangis, hanya itu yang bisa aku lakukan, aku ingin protes sama Tuhan, menurutku itu wajar kalau aku protes, toh Tuhan pasti dengar dan tahu kenapa aku protes, bukankah Dia Maha Tahu dan Maha Mendengar?
Kenapa telalu cepat kau panggil Ayahku, masih banyak mimpiku yang belum tercapai dan dia belum melihatnya. Orang-orang di sekitarnya masih membutuhkannya, bukan hanya kami sekeluarga. Bahkan tanda-tanda akan kepergiannyapun tidak Engkau berikan kepadaku, Kenapa? Sepertinya Engkau merampas kebahagian ini semua, secara mendadak, bahkan melihatnya untuk terkahir kali tidak Engkau ijinkan, apalagi berbicara dan bertatap muka. Kenapa? Engkau Maha Kuasa, dan aku tidak kuasa menahan itu, tapi kenapa Ayahku yang Engkau panggil terlalu cepat......aku protes atas Kebijakan Engkau Sang Khalik.
Lama aku merenung dan mencari jawaban sendiri atas pertanyaan itu karena aku yakin, Tuhan tidak akan menjawab secara langsung pertanyaanku, karena aku hanyalah HambaNYA......
Suatu saat aku teringat akan sebuah cerita, bahwa Nabi Yahya meninggal saat bersembunyi dalam sebuah batang pohon, dia bersembunyi dari kejaran seorang raja yang zolim kepada Allah SWT, Nabi Yahya menyeru kepada jalan kebenaran, tetapi karena raja itu zolim dan tidak menerima ajaran Nabi Yahya, maka dia memerintahkan anak buahnya untuk mencari Nabi Yahya dan membunuhnya, Nabi Yahya lari dan bersembunyi di dalam pohon besar yang atas ijin Allah pohon itu terbelah dua sehingga Nabi Yahya bisa bersembunyi dalam pohon itu, tapi ada yang melihat kejadian itu dan langsung menyuruh anak buah raja yang zolim itu untuk menebang dan membelah pohon itu, akhirnya Nabi Yahya ikut terpotong. Saat mendengar berita kematian anaknya, Ayah Nabi Yahya yang juga seorang Nabiullah, protes dan bertanya, Hai Tuhan kenapa terlalu cepat engkau panggil anaku? Akhirnya turun lah firman Tuhan, sesungguhnya Allah mencintai Nabi Yahya, maka dengan itu Allah memanggilnya untuk kembali kepadanya (kira2 seperti itu, maaf, aku kurang tau dan kurang hapal dalil dan ceritanya, tapi intinya kurang lebih seperti itu, mohon kepada yang lebih mengerti dan mengentahui cerita itu untuk membenarkannnya dan aku akan sangat berterima kasih).
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Buraidah bahwa Nabi SAW bersabda : Seorang mukmin itu meninggal dengan kening basah....Hadits ini juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi yang mengatakan sebagai haidts hasan....Dalam riwayat Baihaqi dan Ath Thabrani yang bersumber dari Abdullah bin Mas'ud disebutkan bahwa kematian seorang mukmin itu ditandai dengan kening yang basah....Dosa - dosanya yang masih tersisa diseka saat akan meninggal dunia.
Dua sumber tadi akhirnya menghibur hatiku, bahwa kepergiannya atas kehendakNYA, mungkin itu makna cinta yang sesungguhnya, cinta kepada Tuhan, cinta hamba kepada TuhanNYA adalah cinta yang tertinggi, dan bagi yang pencinta siap-siaplah kehilangan orang yang di cintai. Toh cinta kepada Tuhan adalah manifestasi cinta yang sesungguhnya, meleburkan diri bersama Sang Khalik, bahwa semua pasti akan kembali. Ntah itu wujud cinta kepada Sang Khalik atau memang sudah waktunya, yang pasti kematian itu pasti akan datang, cepat atau lambat, itu adalah takdir yang mesti di jalani. Senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, perpisahan dengan orang yang tercintai pasti akan terjadi, toh aku yang sangant membenci perpisahan tetap harus menerima itu, mungkin memang Tuhan mencintainya, karena setau aku, Ayahku juga sangan mencitai TuhanNYA. Itulah makna cinta yang harus dan mesti aku pahami.
Apalagi ketika aku tanya sama orang yang ada di dekatnya ketika Ayahku meninggal, ya, kening dia basah, berpeluh seperti habis makan weunak... Ayahkupun pernah bilang, seorang mukmin meninggal dengan kening yang basah, ternyata itu jalan yang dipilihnya untuk menemui TuhanNYA. Aku ikhlas menerima kepergiannya untuk selama-lamanya, suatu saat Tuhan mempertemukan kita lagi dalam keabadian yang sebenarnya.
Hari ini, seandainya Ayahku masih hidup, dia tepat berusia 67 tahun. Selamat jalan Ayahanda tercinta, Engkau telah duluan menemui Tuhanmu, meninggalkan sejuta kenangan untuk anak-anakmu dan yang pernah mengenalmu. Engkau telah meninggalkan dunia yang penuh tipu daya, dunia kematian kata Syek Siti Jenar yang menyebut dunia ini adalah alam kematian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
koment baik2