My Adventure

My Adventure Slideshow: Abus’s trip from Semarang, Jawa, Indonesia to 5 cities Lombok, Surabaya, Denpasar, Cirebon and Jambi was created by TripAdvisor. See another Indonesia slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.

Rabu, 23 Mei 2012

Semalam Bersama Anak Rimba


Akhir pekan minggu ini aku gunakan untuk jalan-jalan ke Taman Nasional Bukit Dua Belas, di temani kawan-kawan dari Pecinta Alam yang ada di Bangko, Merangin, Jambi. Selesai mengerjakan tugas kantor saya langsung meluncur menuju Sekretariat Mata Angin Kampus STKIP Bangko. Anak-anak sudah menunggu dari tadi karena janjinya siang tapi karena masih ada tugas kantor, ba’da asar baru bisa berangkat. Berangkat hanya dengan membawa perlengkapan pribadi, soalnya makanan nanti beli di jalan, karena hanya satu malam, jadi gak perlu bawa banyak. Berangkat dengan menggunakan  motor, tujuan perjalana kami adalah ke Suku Anak Dalam (SAD). Sedikit was-was juga karena ini perjalanan pertama saya ke SAD. Sebenarnya sudah sering ketemu dengan meraka tapi itu di kota dan bukan di hutan rumah mereka. Rombongan kamu sebelas orang, dua di antaranya Anak Rimba (sebutan untuk SAD). Satu jam lebih perjalanan kami berhenti di sebuah pasar untuk membeli beberapa makanan, hanya makan ringan seperti mie dan snack di tambah beberapa minuman kaleng.
Setalah membeli bebepara makanan selanjut melanjutkan perjalan lagi menyusuri jalanan yang mulai memburuk. Untuk mempercepat perjalanan kami memotong jalan dengan menggunakan kebun penduduk tapi itu harus bayar. Karena sudah sore dan takut tengah malam baru sampai di lokasi akhirnya kami bayar juga. Jalan sudah mulai buruk karena tanah merah dan hujan mulai turun. Akhirnya mesti dorong motor beberapa kali karena jalan yang becek dan licin. Dan ini cukup mengganggu perjalanan, padahal hari sudah mulai gelap.  Di ujung kebun penduduk ada sebuah pondok tempat kami menitipkan motor, selanjutnya perjalanan di lanjutkan dengan berjalan kaki. Aku sendiri tidak tau mana batas kebun penduduk dengan batas kawasan Taman Nasional karena dari tadi hanya kebun karet yang kami jumpai, saya pikir pemerintah harus jeli karena ini Taman Nasional. Kami terus menyusur jalan setapak yang licin, aku mulai menyalakan senter, di team ini cuman ada satu untuk sebelas orang, cukup repot juga, yang lain tidak membawa senter karena tidak mempersiapkan untuk kondisi seperti ini. Tapi untungnya yang menjadi leader kami dalah Anak Rimba itu sendiri. Jadi dia cukup hapal jalan walaupun di gelapnya malam. Hujan mulai berhenti  ketika kami sampai di sebuah pondok, sebenarnya itu sekolah yang didirikan oleh Butet Manurung. Hujan mulai berhenti ketika kami sampai di lokasi. Kami disambut oleh Anak-anak Rimba yang ada di pondok itu. Mereka adalah murid-murid Butet Manurung. Butet sendiri sudah tidak mengajar lagi karena dia sudah pindah ke Australia mengikuti suaminya. Pondok itu berbentuk rumah tinggi terbuka, punya dua ruangan, satu di gunakan sebagai kamar, satu untuk berkumpul, belajar dan bermain dan ini tidak mempunyai dinding jadi terbuka hanya di pagari setinggi sekitar 50 cm. Kamarnya sendiri mempunyai luas sekitar 3x3 meter.
Suasananya rame banget, anak-anak ini menyambut kami dan ada juga tamu bule yg katanya lagi peneliatian tentang Anak Rimba. Terus ada seorang guru yang menggantikan Butet Manurung.  Setelah mengganti baju yang basah, kami berkumpul bersama Anak-anak Rimba, bermain bersama, membagikan mereka makanan karena itu yang kita bawa. Mereka sedikit pemalu, tapi mereka selalu memperhatikan gerak-gerik kita. Aku sedikit belajar bahasa rimba dari kawan-kawan, jadi aku ajak mereka ngobrol sedikit demi sedikit, toh mereka juga bisa sedikit berbahasa Indonesia. Mereka bisa menulis dan menggambar. Salah seorang dari mereka menggambar wajahku tanpa aku tau, dan ketika kenalan langsung menyodorkan gambarnya. Kemudian seorang teman ngasih tau, kalau mereka menggambar wajahmu, mereka suka dan menerimamu di tempat ini. Wau...keren... Puas bermain dengan Anak Rimba dan malam sudah sangat larut akhirnya kami memutuskan untuk istirahat. Malam ini tidur bersama anak Rimba.
Sarapan pagi dengan Anak Rimba, menunya nasi putih dan mie. Si bule juga ikut sarapan dengan kita. Setelah makan kami lanjutkan lagi bermain, teman-teman yang lain lagi asik main bola sedangkan saya sendiri maen catur aja, karena saya gak tau maen bola. Setelah puas bermain akhirnya kami keliling ke sawah di sekitar tempa itu, SAD ternyata bercocok tanam juga mereka sudah menetap, perkampungan sebenarnya ada di dalam hutan, cukup jauh kita harus nginap lagi di sana karena gak mungkin bolak balik, tapi karena hari ini mesti pulang karena besok kerja, jadi kita hanya keliling di sekitar daerah persawahan, mungkin lain kali kita masuk ke perkampungan sebenarnya. Yang di pondok ini hanya anak-anak yang mau belajar baca tulis saja, sedangkan orang tua mereka ada di dalam perkampungannya dan ada yang sedang berburu. Yang kami temukan waktu menyusuri sawah SAD tempat mereka ketika mau melahirkan, jadi ketika ibu-ibu mau melahirkan mereka di pisahkan dari kelomponya. Selanjutnya kami ketemu ibu-ibu yang lagi menjaga sawahnya, kemudian berpapasan dengan keluarga teman kami yg jadi leader dalam perjalanan ini. Mereka baru saja habis berburu.
Puas keliling dan berjanji akan pulang lagi ke sana untuk masuk ke perkampungannya akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke bangko. Setelah pamitan dengan Anak-anak Rimba dan guru mereka kamipun bergerak keluar hutan menuju tempat motor yg di titipkan. Perjalan kali ini lumayan cepat karena cukup terang. Setelah menganmbil motor kamipun meluncur menuju bangko.
Pengalaman yang menarik, semalam bersama Anak-anak Rimba.

Senin, 21 Mei 2012

Aku Tidak Punya Ide


Aku tidak punya ide ketika menulis ini, hanya mengalir mengikuti jemariku menari diatas laptopku yang bernama Maya. Gak ada arti spesial tentang nama itu, hanya karena laptop ini sering mebawaku ke dunia maya. Gak tau apa yg mesti aku tulis, banyak ide tapi tidak satupun yg keluar dan fokus untuk mejadi sebuah tulisan. Menulis itu seni, keindahan. Makanya gak bisa aku paksakan ide itu untuk fokus dan menghasilkan sebuah tulisan, biarlah jemariku menari mengikuti aliran air seperti menari di atas jeram seperti yang aku lakukan ketika berarung jeram. Ketika jemari ku menari, berkelapat di kepalaku berbagai ide, gimana kalau menuli ini, itu, begini, begitu. Tapi tetap aja ini yang aku hasilkan, seperti yg kalian baca. Buseeet....
Pikiranku terus berkelana, terbayang tentang seorang yang berwajah cantik di sana yang sudah pergi dan tidak akan pernah kembali, gak ngarap juga kali. Terbayang seorang sahabat yang entah keberadaannya di mana? Yang sudah sembilan tahun berpisah sejak lulus SMA dan ampe sekarang gak pernah ketemu lagi. Kabar terakhir dia sudah menikah dan tinggal di suatu daerah, tapi aku sudah berusaha untuk mencari kontaknya dan meninggalkan pesan ketemannya yang pernah ketemu, tapi ampe sekarang gak ada hasil. Terbayang tentang kebersamaan dengan beberapa teman di pulau dewata yang tidak akan terulang lagi karena kaberadaan kita sudah jauh-jauh dan seperti kebersamaan itu tidak akan pernah terulang lagi. Terbayang tentang petualangan yg sudah aku lakukan dan pengen aku tulis tapi gak jadi-jadi, trus terbayang sebuah rencana pendakian dengan seorang teman yang rencananya mulai dari jaman freendster ampe jaman facebook tapi gak jadi-jadi ha..ha....
Pikiranku terus berkelana dan jemari terus menari mencatat apa yang aku pikirkan. Aku terpikir kembali bagaimana sakitnya di tinggal oleh orang-orang yang tercinta. Mulai dari orang tua, keluarga sampai pacar. Kebersamaan itu tidak akan pernah abadi, aku sudah mengalaminya. Kebersamam dengan orang-orang tercinta, sahabat, pasti ada akhir dari sebuah kebersamaan itu. Entahlah, itu yg terbayang di kepalaku saat ini.
Kembali terbayang sebuah usaha yang aku coba lakukan tapi gak jadi-jadi dan sempat bikin aku stress tapi stresnya langsung ilang karena aku usir dengan kesibukan yang lain. Sebuah usaha yang mandiri mencoba untuk mencari sesuap nasi dari usaha sendiri. Tapi gagal bung...
Jemari ku erus menari mencatat apa yang ada di otakku saat ini. Kembali bernostalgia di waktu beberapa pendakian di gunung-gunung merapi tertinggi di Indonesia. Ingin fokus untuk menjadikan sebuah tulisan yang terpisah-pisah dan berbagi pengalaman. Tapi tetap aja hasilnya apa yg kalian baca ini, susah ni tuk fokus, tulooong...
Lalu aku mencoba untuk fokus...hasilnya aku ngantuk karena tadi malam aku begadang nonton final piala champhion antara Bayer Muchen vs Chelsea. Dan aku akhirnya memilih untuk tidur dan istirahat, mungkin nanti atau besok aku dapat ide dan fokus untuk kembali menulis lagi. Aku pikir gak jelek-jelak amat hasilnya, toh tulisannya apa adanya, apa yang ada di otakku saat ini. Toh menulis jangan mikir nanti tulisannya begini begitu gak ada yang suka. Pokoknya nulis aja dulu, gimana nantilah. Menulis itu seni bung, keindahan hati.
Semoga tidak mengecewakan...