Waktu nonton berita di salah satu
stasiun tv lokal, memberitakan tentang kegiatan wakil walikota yang mengadakan
pengajian, tauziah dan sedikit “pencerahan” di rumah dinasnya. Wakil walikota
itu adalah calon yang bakal maju untuk pemilihan walikota selanjutnya. Bukan
tidak mungkin kegiatan pengajian dirumahnya menjadi semacam kampanye. Bukan
berarti pengajian tersebut tidak bermamfaat. Setiap kegiatan apapun itu
bentuknya pasti bermamfaat, apalagi ini berbentuk pengajian. Bukan itu yang
saya maksud. Saya pernah mambaca sebuah kisah awal mula kitap Al-Muwatta
karangan Imam Malik. Waktu itu Imam Malik pengadakan pengajian di Madinah di Masjid
Nabawi (klo gak salah ingat), dan memang Imam Malik sering mengadakan pengajian
di tempat tersebut. Waktu Imam Malik sedang pengajian di depan murid-muridnya,
datang seorang utusan Raja dari Bagdad menemui beliau, waktu itu Dinasti Umayyah
yang berkuasa. Utusan itu mengatakan ke pada Imam Malik bahwa Amirul Mukminin
mendengar kedalaman dan keluasan ilmu sang Iman dan sang Iman di suruh ke Istana
untuk mengajari Amirul Mikminin tentang ilmu agama. Kemudian Imam Malik berkata
“Ilmu itu di datangi bukan mendatangi” otomatis Iman Malik menolak perintah
raja untuk datang ke istana dan menyuruh Raja yang datang ke Madinah untuk
belajar ilmu ke Imam Malik. Kemudian utusan raja itu pulang dengan tangan hampa
tanpa bisa mengajak Sang Imam ke Bagdad. Ketika mendengar jawaban Sang Imam
dari utusannya tersebut, raja bukan marah. Malah membenarkan.
Selanjutnya, Amirul Mukminin datang
ke Bagdad menghadap ke Imam Malik untuk belajar agama dan Imam Malik
mempersilahkan Sang Raja mengikuti pelajaran sama seperti murid-murid yang lain
tanpa ada perbedaan apapun. Amirul Mukminin duduk bersama dengan para murid
yang lain dan mendengarkan apa yang sang imam ajarkan, dan ini berjalan beberapa
waktu selama raja tersebut di Madinah. Tapi berhubung pusat pemerintahan di
Bagdad, Sang Raja akhirnya mohon pamit ke Imam Malik untuk urusan kenegaraan dan
Raja akan datang lagi ke Bagdad kalau ada kesempatan. Inilah awal mula kitab Al-Muwatta,
akhirnya kitab itu di susun oleh Imam Malik untuk raja karena raja tidak
mungkin bolak balik dari Bagdad ke Madinah karena banyaknya urusan kerajaan apa
lagi waktu itu Dinasti Umayyah lagi di puncak kejayannya.
Apa yang kita petik dari cerita
di atas, ketegasan Sang Iman Malik dan ke rendahan hati sang Amirul Mukminin.
Sang Imam jelas-jelas menolak untuk datang ke istana untuk mengajari sang raja
dengan alasan bahwa ilmu itu didatangi bukan mendatangi, ilmu itu harus di
kejar dan harus bersusah payah untuk mendapatkannya. Dan seorang ulama yg notabenenya
adalah pewaris para nabi harus tetap di jalur relnya sebagai pendidik, pengayom
masyaraka dan pemerintah. Tidak boleh tunduk kepada kekuasaan. Dan berani
bertindak tegas dengan mengataka tidak akan kesewanang-wenangan raja. Imam Malik
bisa saja datang ke istana dan mengajari raja dan pasti akan mendapat imbalan
dan bayaran yang banyak dari sang raja. Tapi imam malik bisa menjaga diri dari
hal seperti itu dan tau bahwa kalau mau belajar harus bersusah-susah dulu kalau
ingin ilmu itu bermamfaat dan Iman Malik tidak mau di jadikan alat kekuasaan.
Sang raja yang tau fungsi dari Imam
membenarkan apa yang dikatakan Imam Malik, dan diapun dengan susah payah datang
ke imam Malik belajar duduk bersila dengan para murid tanpa perbedaan apapun,
padahal dia raja, penguasa Dinasti Umayyah yang lagi jayanya dan kekuasaannya
terbentang di pelosok tanah arab. Toh dia tetap menghargai ilmu pengetahuan dan
menempatkan sang imam sebagai sebuah guru yang patut di hargai. Dia tetap
rendah hati dengan mengikuti pelajaran dari Imam Malik.
Kita bandingkan dengan negeri
ini, kita lihat pada saat kampanye, pesantren di datangi oleh peserta kampanya
untuk minta dukungan, minta doa sang kiyai, buat hajatan di pesantren dan
masjid-masjid. Soalah agama menjadi alat untuk mencapai kekuasaan, pada saat
selesai kampanye dan sudah terpilih, giliran ulama yang di undang ke rumah,
untuk berdoa bersama, bagi tauziah, dengan alasan mereka gak punya waktu karena
banyak urusan ini itu. Dan sang ulama gak berani berkata tidak terhadap ketidak
adilan di negeri ini, karena sudah bersentuhan dengan pemerintah. Kita lihat
sekarang, ketidak adilan di mana-mana, kesenjangan sosial, si miskin hanya bisa
makan nasi aking. Sementara di sisi lain, para penguasa sibuk jalan-jalan ke
luar negeri, menghambur-hamburkan uang negara, mau bikin wc aja anggarannya
sampai 2 M. Uang negara di korupsi, mental korupsi udah menggrogoti negara ini.
Kita liat di sisi lain, para
ulama sibuk di pesantren bersembunyi di balik kokohnya tembok masjid dan pesantren.
Apa salahnya keluar membela kepentingan dan hak rakyat yang di ambil para
penguasa. jangan hanya sibuk menjadi baplik figur, pamerin harta dan isrti
baru. Atau muncul ketika berhasil beli mobil baru dan nikahin anak kecil. Atau
berhasil balikan lagi dengan istri yang sudah di cerain. Persoalan bangasa ini
cukup banyak dan anda para pewaris nabi di amanahkan paling depan untuk
mengatasi persoalan ini dan bahu membahu dengan rakyat indonesia untuk membawa
bangsa ini keluar dari krisis moral. Kita pun sudah tau, salah satu kehancuran
islam di Spanyol, karena lemahnya karakter ulama, hanya disuruh ngurusin masjid
oleh penguasa waktu itu.
Saya yakin, masih banyak ulama
yang bisa meneladani Imam Malik, masih banyak yang bersih dari hiruk pikuk
politik kotor negeri ini, tapi pertanyaaanya, sampai kapan anda berada di balik
masjid dan pesantren? Mungkin masih ada para pemimpin yang rendah hati, amanah,
membela kepentingan rakyat, anti korupsi. Tapi dimana pemimpin itu? Kapan dia
akan bersuara lantang akan kebobrokan negeri ini? Kapan dia melibas semua para
koruptor?
Harapan itu masih ada.