My Adventure

My Adventure Slideshow: Abus’s trip from Semarang, Jawa, Indonesia to 5 cities Lombok, Surabaya, Denpasar, Cirebon and Jambi was created by TripAdvisor. See another Indonesia slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.

Kamis, 16 Agustus 2012

Nasionalisme Kaum Marjinal

17 Agustus biasanya diperingati dengan sangat meriah di lapangan terbuka oleh Rakyat Indonesia mulai dari RT, Kelurahan, sampai di Istana Negara Oleh Presiden RI. Tapi dari sebagian anak-anak muda, mereka memperingati dengan cara lain. Bahkan sedikit sekali jumlahnya bila di bandingkan dengan yang memperingati di lapangan terbuka. Mereka upacara di gunung, di atas awan. Mereka adalah pendaki-pendaki muda atau yang tergabung dalam Organisasi Pecinta Alam. Memang banyak yang mencibir mereka, bahkan di pandang sebelah mata. Mereka adalah anak-anak bangsa yang termajinalkan, termarjinalkan oleh persepsi yang miring tentang mereka, kurang kerjaan, gak ada untungnya naik gunung, cape doang, apa yang kamu dapat dari naik gunung? (aku dapat cibiran ini ketika turun dari gunung salak) toh, mereka tetap mendaki dan semangat untuk upacara di atas ketinggian, memperingati kemerdekaan bangsa ini, mereka juga anak-anak bangsa yang mempunyai nasionalisme, bahkan mereka menghayati dengan khidmat upacara di gunung bila di bandingkan dengan di lapangan. Karena mereka berjuang untuk mengibarkan sang merah putih. Walaupun tidak seberat perjuangan para pahlawan bangsa ini, tapi itu sedikit memberikan arti bahwa merah putih tidak mudak untuk di kibarkan. Bahkan ada yang menangis ketika di Puncak Tertinggi atau saat menyanyikan Lagu Indonesia Raya, atau saat melihat Sang Merah Putih berkibar dengan gagahnya. Mereka bangga menjadi anak bangsa, Bangsa Indonesia.
Sebobrok-bobroknya bangsa ini dia tetap bangsaku, tempat aku di lahirkan dan di besarkan, tempat aku berpijak, makan dan minun dari tanah bangsa ini. I Love Indonesia. I Love You Full.
Berkibarlah terus Merah Putih, di manapun tempat tertinggi di bumi ini, karena kau layak berkibar.

Sabtu, 07 Juli 2012

Hening


Aku biarkan keheningan menyelimutiku
Seperti meniadakan cahaya dalam lorong-lorong yg sempit
Membebaskan semua imajinasiku
Tanpa tujuan yang pasti
Aku seperti di tangah lautan, sendiri

Seperti sebuah ketakutan untuk melangkah
Arah itu tidak ada
Asa yang hancur karena kebodohanku sendiri
Tertanam dalam nafasku dan aku memilih sendiri
Terlalu menikmati keheningan malam

Aku tidak akan bertanya
Kenapa jalanku hampa
Keheningan menyelimuti jejak-jejaku
Karena aku sendiri punya jawaban
Dan aku kan memilih diam dan keheningan, hampa ku jelang
Menemaniku menembus kebisuan malam

Pernah Mencoba membangun kokoh kembali jalanan terjal
Karena esok mentari pasti datang
Memancarkan sinarnya yang berenergi
Tapi ternyata malamku tetap gelap
Bulan itu tidak datang
Keheningan yang menemniku bersama rintik hujan
Aku terpaku, masih menyusun energi kemarin

Seolah jalanku buntu
Terbentuk tembok yang menulang tinggi
Kemanapun aku melangkah
Ku harap ini fatamorgana
Karena aku masih berharap
Seperti mimpiku kemarin...

Sabtu, 16 Juni 2012

Restorasi vs kebutuhan ekonomi


 Waktu saya bertugas sebagai volunteer di Hutan Harapan Rainforest, selama seminggu saya mendampingi Dinas Kehutanan untuk melakukan pendataan dan pemetaan ke sebuah kawasan yang di klaim warga sebagai lahan mereka untuk bertani dan bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sebagai orang yang gemar ke alam bebas ini bukan sebuah pekerjaan susah, karena berhubungan dengan semua kegiatan yang sering saya lakukan dulu di kampus. Tapi persoalannya bukan di situ. Yang menjadi perhatian saya adalah pertentangan antara Harapan Rainforest dengan warga yang mengklaim lahan negara yang sebenarnya di peruntukan untuk kawasan Restorasi Ekosistem, dan Dinas Kehutanan sebagai penengah yang mewakili negara dalam hal ini. Kawasan yang di klaim warga sebenarnya adalah bekas kawasan sebuah perusahaan HPH (Hak Pengolahan Hutan) untuk kayu, yang sudah habis kontraknya di Indonesia. Kawasan tersebut di kelola lagi oleh Harapan Rainforest yang bergerak dalam keseimbangan ekosistem yang memamfaatkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Warga yang merasa berhak dengan lahan tersebut karena berlindung atau di payungi dari UUD 45 pasal 33, merekapun di dampingi oleh sebuah NGO yang merasa berjuang untuk mengaplikasikan pasal 33 tersebut.
Salah satu puhon yg sudah di tebang
Sangat ironi memang ketika kebutuhan hak hidup untuk mendapatkan penghidupan yang layak harus bertentangan dengan kegiatan Restorasi hutan. Di satu sisi warga negara merasa berhak atas tanah tersebut karena tanah negara, sedangkan Harapan Rainforest, merasa berhak juga untuk mengelola kawasana tersebut karena sudah mendapat ijin dari pemerintah. Perusaahaan berhak mengelola hutan tersebut dan memamfaatkan hasil hutan non kayu sehingga hutan tersebut di namakan Hutan Harapan Rainforest. Pertentangan ini akan semakin runyam ketika tidak ada ketegasan dari pemerintah yang menjadi penengah. Dan ini di perparah dengan keterlibatan pihak ketiga yang memamfaatkan konflik ini.
Tapi yang menjadi sedikit aneh, ketika saya mendampingi pemetaan tersebut, ternyata warga yang mengklaim lahan tersebut semuanya adalah pendatang, dan bahkan ada yang baru sekali datang ke lokasi tersebut. Bahkan mereka sangat ngotot untuk mengolah lahan tersebut. Pembukaan dan penebangan hutan yang sudah segabian dari mereka lakukan untuk kegiatan pertanian, kegiatan merekapun secara sporadik, dan ini sedikit rapi seperti ada sebuah sistem yang mengatur mereka. Di antara warga sendiri terjadi konflik horizontal karena diantara mereka ada yg mendukung Hutan Harapan dan mereka bermitra dengan Hutan Harapan untuk mengolah Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).
kawasan yang mau di jadikan perkebunan warga
Di Hutan Harapan sendiri sebenarnya ada penduduk lokal, mereka di sebut Suku Anak Dalam (SAD). Sedangkan SAD sendiri terjadi konflik horizontal juga antar ada yangg mau bermitra dengan Hutan Harapan dan ada yang tidak mau. Tapi ini hal wajar, karena mereka benar-benar penduduk lokal  dan wilayah Hutan Harapan memang tanah nenek moyang mereka dan Hutan Harapan berusaha untuk hidup berdampingan dan menjaga kebudayaan mereka, walaupun ketika di selidiki ternyata SAD tersebut sudah bercampur baur para pendatang dan disini sudah terjadi proses asimilasi budaya luar. Tapi yang menjadi persoalan adalah para pendatang yang mengklaim beberapa wilayah Hutan Harapan untuk mereka garap sebagai lahan pertanian. Ini sesuatu yang aneh, mereka para pendatang dari berbagai wilayah sumatra dan jawa. Bahkan ketika di lakukan pendataan, mereka mengaku baru dua kali ke lokasi bahkan ada yang baru sekali dan anehnya lagi, datanya ada sedangkan orangnya tidak ada dan sepertinya dia tidak pernah ke lokasi.
kawasan yg sudah di kalim warga
Sebagian kawasan yang di klaim warga sebenarnya masuh hutan dengan vegatasi yang masih rapat walaupun sudah termasuk hutan skunder, tapi ini akan sangat di sayangkan kalau di jadikan sawah atau kebun. Satwa yang ada di hutan tersebut masih banyak dan ini pasti akan berdampak pada keseimbangan ekosistem ketika hutan tersebut dijadikan sawah atau perkebunan bagi rakyat.
lahan yg sudah di bakar untuk di jadikan kebun
Kepentingan restorasi harus berbenturan dengan kepentingan ekonomi, lahan untuk rakyat sudah semakin sedikit untuk di garap, adanya praktek sistem kapitalisme semakin mempersulit warga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tuan tanah semakin banyak tanahnya, dan rakyat yang tidak punya tanah berusaha menyerobot tanah demi memenuhi kebutuhan hidupnya walaupun tanah tersebut di peruntukan  untuk restorasi. Di beberapa Taman Nasiona di Sumatera misalnya, khususnya Jambi, garis batas Taman Nasional dengan tanah warga semakin tidak jelas, warga berusaha menyerobot Taman Nasional untuk kepentingannya sendiri. Dan ini semakin di perparah dengan ketidaktegasan pemerintah dalam menyikapi permasalahan ini. Hak hidup yang layak harus berbenturan dengan hak hidup satwa, mungkin kata itu sedikit kejam tapi itulah kenyataannya.

Rabu, 23 Mei 2012

Semalam Bersama Anak Rimba


Akhir pekan minggu ini aku gunakan untuk jalan-jalan ke Taman Nasional Bukit Dua Belas, di temani kawan-kawan dari Pecinta Alam yang ada di Bangko, Merangin, Jambi. Selesai mengerjakan tugas kantor saya langsung meluncur menuju Sekretariat Mata Angin Kampus STKIP Bangko. Anak-anak sudah menunggu dari tadi karena janjinya siang tapi karena masih ada tugas kantor, ba’da asar baru bisa berangkat. Berangkat hanya dengan membawa perlengkapan pribadi, soalnya makanan nanti beli di jalan, karena hanya satu malam, jadi gak perlu bawa banyak. Berangkat dengan menggunakan  motor, tujuan perjalana kami adalah ke Suku Anak Dalam (SAD). Sedikit was-was juga karena ini perjalanan pertama saya ke SAD. Sebenarnya sudah sering ketemu dengan meraka tapi itu di kota dan bukan di hutan rumah mereka. Rombongan kamu sebelas orang, dua di antaranya Anak Rimba (sebutan untuk SAD). Satu jam lebih perjalanan kami berhenti di sebuah pasar untuk membeli beberapa makanan, hanya makan ringan seperti mie dan snack di tambah beberapa minuman kaleng.
Setalah membeli bebepara makanan selanjut melanjutkan perjalan lagi menyusuri jalanan yang mulai memburuk. Untuk mempercepat perjalanan kami memotong jalan dengan menggunakan kebun penduduk tapi itu harus bayar. Karena sudah sore dan takut tengah malam baru sampai di lokasi akhirnya kami bayar juga. Jalan sudah mulai buruk karena tanah merah dan hujan mulai turun. Akhirnya mesti dorong motor beberapa kali karena jalan yang becek dan licin. Dan ini cukup mengganggu perjalanan, padahal hari sudah mulai gelap.  Di ujung kebun penduduk ada sebuah pondok tempat kami menitipkan motor, selanjutnya perjalanan di lanjutkan dengan berjalan kaki. Aku sendiri tidak tau mana batas kebun penduduk dengan batas kawasan Taman Nasional karena dari tadi hanya kebun karet yang kami jumpai, saya pikir pemerintah harus jeli karena ini Taman Nasional. Kami terus menyusur jalan setapak yang licin, aku mulai menyalakan senter, di team ini cuman ada satu untuk sebelas orang, cukup repot juga, yang lain tidak membawa senter karena tidak mempersiapkan untuk kondisi seperti ini. Tapi untungnya yang menjadi leader kami dalah Anak Rimba itu sendiri. Jadi dia cukup hapal jalan walaupun di gelapnya malam. Hujan mulai berhenti  ketika kami sampai di sebuah pondok, sebenarnya itu sekolah yang didirikan oleh Butet Manurung. Hujan mulai berhenti ketika kami sampai di lokasi. Kami disambut oleh Anak-anak Rimba yang ada di pondok itu. Mereka adalah murid-murid Butet Manurung. Butet sendiri sudah tidak mengajar lagi karena dia sudah pindah ke Australia mengikuti suaminya. Pondok itu berbentuk rumah tinggi terbuka, punya dua ruangan, satu di gunakan sebagai kamar, satu untuk berkumpul, belajar dan bermain dan ini tidak mempunyai dinding jadi terbuka hanya di pagari setinggi sekitar 50 cm. Kamarnya sendiri mempunyai luas sekitar 3x3 meter.
Suasananya rame banget, anak-anak ini menyambut kami dan ada juga tamu bule yg katanya lagi peneliatian tentang Anak Rimba. Terus ada seorang guru yang menggantikan Butet Manurung.  Setelah mengganti baju yang basah, kami berkumpul bersama Anak-anak Rimba, bermain bersama, membagikan mereka makanan karena itu yang kita bawa. Mereka sedikit pemalu, tapi mereka selalu memperhatikan gerak-gerik kita. Aku sedikit belajar bahasa rimba dari kawan-kawan, jadi aku ajak mereka ngobrol sedikit demi sedikit, toh mereka juga bisa sedikit berbahasa Indonesia. Mereka bisa menulis dan menggambar. Salah seorang dari mereka menggambar wajahku tanpa aku tau, dan ketika kenalan langsung menyodorkan gambarnya. Kemudian seorang teman ngasih tau, kalau mereka menggambar wajahmu, mereka suka dan menerimamu di tempat ini. Wau...keren... Puas bermain dengan Anak Rimba dan malam sudah sangat larut akhirnya kami memutuskan untuk istirahat. Malam ini tidur bersama anak Rimba.
Sarapan pagi dengan Anak Rimba, menunya nasi putih dan mie. Si bule juga ikut sarapan dengan kita. Setelah makan kami lanjutkan lagi bermain, teman-teman yang lain lagi asik main bola sedangkan saya sendiri maen catur aja, karena saya gak tau maen bola. Setelah puas bermain akhirnya kami keliling ke sawah di sekitar tempa itu, SAD ternyata bercocok tanam juga mereka sudah menetap, perkampungan sebenarnya ada di dalam hutan, cukup jauh kita harus nginap lagi di sana karena gak mungkin bolak balik, tapi karena hari ini mesti pulang karena besok kerja, jadi kita hanya keliling di sekitar daerah persawahan, mungkin lain kali kita masuk ke perkampungan sebenarnya. Yang di pondok ini hanya anak-anak yang mau belajar baca tulis saja, sedangkan orang tua mereka ada di dalam perkampungannya dan ada yang sedang berburu. Yang kami temukan waktu menyusuri sawah SAD tempat mereka ketika mau melahirkan, jadi ketika ibu-ibu mau melahirkan mereka di pisahkan dari kelomponya. Selanjutnya kami ketemu ibu-ibu yang lagi menjaga sawahnya, kemudian berpapasan dengan keluarga teman kami yg jadi leader dalam perjalanan ini. Mereka baru saja habis berburu.
Puas keliling dan berjanji akan pulang lagi ke sana untuk masuk ke perkampungannya akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke bangko. Setelah pamitan dengan Anak-anak Rimba dan guru mereka kamipun bergerak keluar hutan menuju tempat motor yg di titipkan. Perjalan kali ini lumayan cepat karena cukup terang. Setelah menganmbil motor kamipun meluncur menuju bangko.
Pengalaman yang menarik, semalam bersama Anak-anak Rimba.

Senin, 21 Mei 2012

Aku Tidak Punya Ide


Aku tidak punya ide ketika menulis ini, hanya mengalir mengikuti jemariku menari diatas laptopku yang bernama Maya. Gak ada arti spesial tentang nama itu, hanya karena laptop ini sering mebawaku ke dunia maya. Gak tau apa yg mesti aku tulis, banyak ide tapi tidak satupun yg keluar dan fokus untuk mejadi sebuah tulisan. Menulis itu seni, keindahan. Makanya gak bisa aku paksakan ide itu untuk fokus dan menghasilkan sebuah tulisan, biarlah jemariku menari mengikuti aliran air seperti menari di atas jeram seperti yang aku lakukan ketika berarung jeram. Ketika jemari ku menari, berkelapat di kepalaku berbagai ide, gimana kalau menuli ini, itu, begini, begitu. Tapi tetap aja ini yang aku hasilkan, seperti yg kalian baca. Buseeet....
Pikiranku terus berkelana, terbayang tentang seorang yang berwajah cantik di sana yang sudah pergi dan tidak akan pernah kembali, gak ngarap juga kali. Terbayang seorang sahabat yang entah keberadaannya di mana? Yang sudah sembilan tahun berpisah sejak lulus SMA dan ampe sekarang gak pernah ketemu lagi. Kabar terakhir dia sudah menikah dan tinggal di suatu daerah, tapi aku sudah berusaha untuk mencari kontaknya dan meninggalkan pesan ketemannya yang pernah ketemu, tapi ampe sekarang gak ada hasil. Terbayang tentang kebersamaan dengan beberapa teman di pulau dewata yang tidak akan terulang lagi karena kaberadaan kita sudah jauh-jauh dan seperti kebersamaan itu tidak akan pernah terulang lagi. Terbayang tentang petualangan yg sudah aku lakukan dan pengen aku tulis tapi gak jadi-jadi, trus terbayang sebuah rencana pendakian dengan seorang teman yang rencananya mulai dari jaman freendster ampe jaman facebook tapi gak jadi-jadi ha..ha....
Pikiranku terus berkelana dan jemari terus menari mencatat apa yang aku pikirkan. Aku terpikir kembali bagaimana sakitnya di tinggal oleh orang-orang yang tercinta. Mulai dari orang tua, keluarga sampai pacar. Kebersamaan itu tidak akan pernah abadi, aku sudah mengalaminya. Kebersamam dengan orang-orang tercinta, sahabat, pasti ada akhir dari sebuah kebersamaan itu. Entahlah, itu yg terbayang di kepalaku saat ini.
Kembali terbayang sebuah usaha yang aku coba lakukan tapi gak jadi-jadi dan sempat bikin aku stress tapi stresnya langsung ilang karena aku usir dengan kesibukan yang lain. Sebuah usaha yang mandiri mencoba untuk mencari sesuap nasi dari usaha sendiri. Tapi gagal bung...
Jemari ku erus menari mencatat apa yang ada di otakku saat ini. Kembali bernostalgia di waktu beberapa pendakian di gunung-gunung merapi tertinggi di Indonesia. Ingin fokus untuk menjadikan sebuah tulisan yang terpisah-pisah dan berbagi pengalaman. Tapi tetap aja hasilnya apa yg kalian baca ini, susah ni tuk fokus, tulooong...
Lalu aku mencoba untuk fokus...hasilnya aku ngantuk karena tadi malam aku begadang nonton final piala champhion antara Bayer Muchen vs Chelsea. Dan aku akhirnya memilih untuk tidur dan istirahat, mungkin nanti atau besok aku dapat ide dan fokus untuk kembali menulis lagi. Aku pikir gak jelek-jelak amat hasilnya, toh tulisannya apa adanya, apa yang ada di otakku saat ini. Toh menulis jangan mikir nanti tulisannya begini begitu gak ada yang suka. Pokoknya nulis aja dulu, gimana nantilah. Menulis itu seni bung, keindahan hati.
Semoga tidak mengecewakan...

Minggu, 29 April 2012

Pemimpin dan Ulama


Waktu nonton berita di salah satu stasiun tv lokal, memberitakan tentang kegiatan wakil walikota yang mengadakan pengajian, tauziah dan sedikit “pencerahan” di rumah dinasnya. Wakil walikota itu adalah calon yang bakal maju untuk pemilihan walikota selanjutnya. Bukan tidak mungkin kegiatan pengajian dirumahnya menjadi semacam kampanye. Bukan berarti pengajian tersebut tidak bermamfaat. Setiap kegiatan apapun itu bentuknya pasti bermamfaat, apalagi ini berbentuk pengajian. Bukan itu yang saya maksud. Saya pernah mambaca sebuah kisah awal mula kitap Al-Muwatta karangan Imam Malik. Waktu itu Imam Malik pengadakan pengajian di Madinah di Masjid Nabawi (klo gak salah ingat), dan memang Imam Malik sering mengadakan pengajian di tempat tersebut. Waktu Imam Malik sedang pengajian di depan murid-muridnya, datang seorang utusan Raja dari Bagdad menemui beliau, waktu itu Dinasti Umayyah yang berkuasa. Utusan itu mengatakan ke pada Imam Malik bahwa Amirul Mukminin mendengar kedalaman dan keluasan ilmu sang Iman dan sang Iman di suruh ke Istana untuk mengajari Amirul Mikminin tentang ilmu agama. Kemudian Imam Malik berkata “Ilmu itu di datangi bukan mendatangi” otomatis Iman Malik menolak perintah raja untuk datang ke istana dan menyuruh Raja yang datang ke Madinah untuk belajar ilmu ke Imam Malik. Kemudian utusan raja itu pulang dengan tangan hampa tanpa bisa mengajak Sang Imam ke Bagdad. Ketika mendengar jawaban Sang Imam dari utusannya tersebut, raja bukan marah. Malah membenarkan.
Selanjutnya, Amirul Mukminin datang ke Bagdad menghadap ke Imam Malik untuk belajar agama dan Imam Malik mempersilahkan Sang Raja mengikuti pelajaran sama seperti murid-murid yang lain tanpa ada perbedaan apapun. Amirul Mukminin duduk bersama dengan para murid yang lain dan mendengarkan apa yang sang imam ajarkan, dan ini berjalan beberapa waktu selama raja tersebut di Madinah. Tapi berhubung pusat pemerintahan di Bagdad, Sang Raja akhirnya mohon pamit ke Imam Malik untuk urusan kenegaraan dan Raja akan datang lagi ke Bagdad kalau ada kesempatan. Inilah awal mula kitab Al-Muwatta, akhirnya kitab itu di susun oleh Imam Malik untuk raja karena raja tidak mungkin bolak balik dari Bagdad ke Madinah karena banyaknya urusan kerajaan apa lagi waktu itu Dinasti Umayyah lagi di puncak kejayannya.
Apa yang kita petik dari cerita di atas, ketegasan Sang Iman Malik dan ke rendahan hati sang Amirul Mukminin. Sang Imam jelas-jelas menolak untuk datang ke istana untuk mengajari sang raja dengan alasan bahwa ilmu itu didatangi bukan mendatangi, ilmu itu harus di kejar dan harus bersusah payah untuk mendapatkannya. Dan seorang ulama yg notabenenya adalah pewaris para nabi harus tetap di jalur relnya sebagai pendidik, pengayom masyaraka dan pemerintah. Tidak boleh tunduk kepada kekuasaan. Dan berani bertindak tegas dengan mengataka tidak akan kesewanang-wenangan raja. Imam Malik bisa saja datang ke istana dan mengajari raja dan pasti akan mendapat imbalan dan bayaran yang banyak dari sang raja. Tapi imam malik bisa menjaga diri dari hal seperti itu dan tau bahwa kalau mau belajar harus bersusah-susah dulu kalau ingin ilmu itu bermamfaat dan Iman Malik tidak mau di jadikan alat kekuasaan.
Sang raja yang tau fungsi dari Imam membenarkan apa yang dikatakan Imam Malik, dan diapun dengan susah payah datang ke imam Malik belajar duduk bersila dengan para murid tanpa perbedaan apapun, padahal dia raja, penguasa Dinasti Umayyah yang lagi jayanya dan kekuasaannya terbentang di pelosok tanah arab. Toh dia tetap menghargai ilmu pengetahuan dan menempatkan sang imam sebagai sebuah guru yang patut di hargai. Dia tetap rendah hati dengan mengikuti pelajaran dari Imam Malik.
Kita bandingkan dengan negeri ini, kita lihat pada saat kampanye, pesantren di datangi oleh peserta kampanya untuk minta dukungan, minta doa sang kiyai, buat hajatan di pesantren dan masjid-masjid. Soalah agama menjadi alat untuk mencapai kekuasaan, pada saat selesai kampanye dan sudah terpilih, giliran ulama yang di undang ke rumah, untuk berdoa bersama, bagi tauziah, dengan alasan mereka gak punya waktu karena banyak urusan ini itu. Dan sang ulama gak berani berkata tidak terhadap ketidak adilan di negeri ini, karena sudah bersentuhan dengan pemerintah. Kita lihat sekarang, ketidak adilan di mana-mana, kesenjangan sosial, si miskin hanya bisa makan nasi aking. Sementara di sisi lain, para penguasa sibuk jalan-jalan ke luar negeri, menghambur-hamburkan uang negara, mau bikin wc aja anggarannya sampai 2 M. Uang negara di korupsi, mental korupsi udah menggrogoti negara ini.
Kita liat di sisi lain, para ulama sibuk di pesantren bersembunyi di balik kokohnya tembok masjid dan pesantren. Apa salahnya keluar membela kepentingan dan hak rakyat yang di ambil para penguasa. jangan hanya sibuk menjadi baplik figur, pamerin harta dan isrti baru. Atau muncul ketika berhasil beli mobil baru dan nikahin anak kecil. Atau berhasil balikan lagi dengan istri yang sudah di cerain. Persoalan bangasa ini cukup banyak dan anda para pewaris nabi di amanahkan paling depan untuk mengatasi persoalan ini dan bahu membahu dengan rakyat indonesia untuk membawa bangsa ini keluar dari krisis moral. Kita pun sudah tau, salah satu kehancuran islam di Spanyol, karena lemahnya karakter ulama, hanya disuruh ngurusin masjid oleh penguasa waktu itu.
Saya yakin, masih banyak ulama yang bisa meneladani Imam Malik, masih banyak yang bersih dari hiruk pikuk politik kotor negeri ini, tapi pertanyaaanya, sampai kapan anda berada di balik masjid dan pesantren? Mungkin masih ada para pemimpin yang rendah hati, amanah, membela kepentingan rakyat, anti korupsi. Tapi dimana pemimpin itu? Kapan dia akan bersuara lantang akan kebobrokan negeri ini? Kapan dia melibas semua para koruptor?
Harapan itu masih ada.