My Adventure

My Adventure Slideshow: Abus’s trip from Semarang, Jawa, Indonesia to 5 cities Lombok, Surabaya, Denpasar, Cirebon and Jambi was created by TripAdvisor. See another Indonesia slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.

Minggu, 29 April 2012

Pemimpin dan Ulama


Waktu nonton berita di salah satu stasiun tv lokal, memberitakan tentang kegiatan wakil walikota yang mengadakan pengajian, tauziah dan sedikit “pencerahan” di rumah dinasnya. Wakil walikota itu adalah calon yang bakal maju untuk pemilihan walikota selanjutnya. Bukan tidak mungkin kegiatan pengajian dirumahnya menjadi semacam kampanye. Bukan berarti pengajian tersebut tidak bermamfaat. Setiap kegiatan apapun itu bentuknya pasti bermamfaat, apalagi ini berbentuk pengajian. Bukan itu yang saya maksud. Saya pernah mambaca sebuah kisah awal mula kitap Al-Muwatta karangan Imam Malik. Waktu itu Imam Malik pengadakan pengajian di Madinah di Masjid Nabawi (klo gak salah ingat), dan memang Imam Malik sering mengadakan pengajian di tempat tersebut. Waktu Imam Malik sedang pengajian di depan murid-muridnya, datang seorang utusan Raja dari Bagdad menemui beliau, waktu itu Dinasti Umayyah yang berkuasa. Utusan itu mengatakan ke pada Imam Malik bahwa Amirul Mukminin mendengar kedalaman dan keluasan ilmu sang Iman dan sang Iman di suruh ke Istana untuk mengajari Amirul Mikminin tentang ilmu agama. Kemudian Imam Malik berkata “Ilmu itu di datangi bukan mendatangi” otomatis Iman Malik menolak perintah raja untuk datang ke istana dan menyuruh Raja yang datang ke Madinah untuk belajar ilmu ke Imam Malik. Kemudian utusan raja itu pulang dengan tangan hampa tanpa bisa mengajak Sang Imam ke Bagdad. Ketika mendengar jawaban Sang Imam dari utusannya tersebut, raja bukan marah. Malah membenarkan.
Selanjutnya, Amirul Mukminin datang ke Bagdad menghadap ke Imam Malik untuk belajar agama dan Imam Malik mempersilahkan Sang Raja mengikuti pelajaran sama seperti murid-murid yang lain tanpa ada perbedaan apapun. Amirul Mukminin duduk bersama dengan para murid yang lain dan mendengarkan apa yang sang imam ajarkan, dan ini berjalan beberapa waktu selama raja tersebut di Madinah. Tapi berhubung pusat pemerintahan di Bagdad, Sang Raja akhirnya mohon pamit ke Imam Malik untuk urusan kenegaraan dan Raja akan datang lagi ke Bagdad kalau ada kesempatan. Inilah awal mula kitab Al-Muwatta, akhirnya kitab itu di susun oleh Imam Malik untuk raja karena raja tidak mungkin bolak balik dari Bagdad ke Madinah karena banyaknya urusan kerajaan apa lagi waktu itu Dinasti Umayyah lagi di puncak kejayannya.
Apa yang kita petik dari cerita di atas, ketegasan Sang Iman Malik dan ke rendahan hati sang Amirul Mukminin. Sang Imam jelas-jelas menolak untuk datang ke istana untuk mengajari sang raja dengan alasan bahwa ilmu itu didatangi bukan mendatangi, ilmu itu harus di kejar dan harus bersusah payah untuk mendapatkannya. Dan seorang ulama yg notabenenya adalah pewaris para nabi harus tetap di jalur relnya sebagai pendidik, pengayom masyaraka dan pemerintah. Tidak boleh tunduk kepada kekuasaan. Dan berani bertindak tegas dengan mengataka tidak akan kesewanang-wenangan raja. Imam Malik bisa saja datang ke istana dan mengajari raja dan pasti akan mendapat imbalan dan bayaran yang banyak dari sang raja. Tapi imam malik bisa menjaga diri dari hal seperti itu dan tau bahwa kalau mau belajar harus bersusah-susah dulu kalau ingin ilmu itu bermamfaat dan Iman Malik tidak mau di jadikan alat kekuasaan.
Sang raja yang tau fungsi dari Imam membenarkan apa yang dikatakan Imam Malik, dan diapun dengan susah payah datang ke imam Malik belajar duduk bersila dengan para murid tanpa perbedaan apapun, padahal dia raja, penguasa Dinasti Umayyah yang lagi jayanya dan kekuasaannya terbentang di pelosok tanah arab. Toh dia tetap menghargai ilmu pengetahuan dan menempatkan sang imam sebagai sebuah guru yang patut di hargai. Dia tetap rendah hati dengan mengikuti pelajaran dari Imam Malik.
Kita bandingkan dengan negeri ini, kita lihat pada saat kampanye, pesantren di datangi oleh peserta kampanya untuk minta dukungan, minta doa sang kiyai, buat hajatan di pesantren dan masjid-masjid. Soalah agama menjadi alat untuk mencapai kekuasaan, pada saat selesai kampanye dan sudah terpilih, giliran ulama yang di undang ke rumah, untuk berdoa bersama, bagi tauziah, dengan alasan mereka gak punya waktu karena banyak urusan ini itu. Dan sang ulama gak berani berkata tidak terhadap ketidak adilan di negeri ini, karena sudah bersentuhan dengan pemerintah. Kita lihat sekarang, ketidak adilan di mana-mana, kesenjangan sosial, si miskin hanya bisa makan nasi aking. Sementara di sisi lain, para penguasa sibuk jalan-jalan ke luar negeri, menghambur-hamburkan uang negara, mau bikin wc aja anggarannya sampai 2 M. Uang negara di korupsi, mental korupsi udah menggrogoti negara ini.
Kita liat di sisi lain, para ulama sibuk di pesantren bersembunyi di balik kokohnya tembok masjid dan pesantren. Apa salahnya keluar membela kepentingan dan hak rakyat yang di ambil para penguasa. jangan hanya sibuk menjadi baplik figur, pamerin harta dan isrti baru. Atau muncul ketika berhasil beli mobil baru dan nikahin anak kecil. Atau berhasil balikan lagi dengan istri yang sudah di cerain. Persoalan bangasa ini cukup banyak dan anda para pewaris nabi di amanahkan paling depan untuk mengatasi persoalan ini dan bahu membahu dengan rakyat indonesia untuk membawa bangsa ini keluar dari krisis moral. Kita pun sudah tau, salah satu kehancuran islam di Spanyol, karena lemahnya karakter ulama, hanya disuruh ngurusin masjid oleh penguasa waktu itu.
Saya yakin, masih banyak ulama yang bisa meneladani Imam Malik, masih banyak yang bersih dari hiruk pikuk politik kotor negeri ini, tapi pertanyaaanya, sampai kapan anda berada di balik masjid dan pesantren? Mungkin masih ada para pemimpin yang rendah hati, amanah, membela kepentingan rakyat, anti korupsi. Tapi dimana pemimpin itu? Kapan dia akan bersuara lantang akan kebobrokan negeri ini? Kapan dia melibas semua para koruptor?
Harapan itu masih ada.

Kamis, 26 April 2012

The Power of Ikhlas


Kali ini akan bercerita tentang apa yg aku rasakan akhir-akhir ini, perasaanku hancur, ini berkali-kali, seperti biasa gak bisa cerita ke orang, cukup aku menulis dan curhat dengan Tuhan...ntar kamu yg di sana membaca atau gak,, itu gak penting lg. yg jelas ini apa yg aku rasa, tentang kita.
Perasanku hancur ketika tau kau sudah ada yg punya, padahal hubungan kita belum berakhir, gak perlu tau di mana aku tau itu semua, toh intiusi aku lebih tajam dari pada yang kau kira, buktinya ada kok dan nyata bgt. Bukan aku gak tau dengan apa yg kau lakukan, walaupun jauh, aku tau klo kau mengkhinatiku, membohongiku, menjilat kembali kata-katamu sendiri. Tapi untuk apa kau khianati aku? Bukannya udah sering dan kau janji tidak akan melakukan itu lagi?
Kadang selalu terpikir di benakku untuk membalas semua perlakuanmu kepadaku. Aku bisa membalas lebih kejam dengan apa yang kau lakukan kepadaku. Ini bukan perkarah gampang buatku. Apa salahnya membalas kelakuan bejatmu kepadaku, kebohongan yg sering kau lakukan. Pengkhianatan yg kau lakukan. Asal kamu tau, Sakit banget klo di bohongin dengan orang yg kita sayang dan kita percayai, sakitnya tu nikam bgt ampe ke ulu hati. Susah bgt ngelupain itu. Aku bisa membalas lebih kejam, dengan caraku sendiri, karena aku juga manusia biasa yg bisa sakit hati terus membalas sakit hatiku dan aku gak bisa bersabar trus dengan sikapmu yg berulang-ulang seperti itu. kesabaranku ada batasnya. Cinta dan kepercayaan yg aku berikan ternyata dengan gampang kau khianati. Apa yg kau mau sehingga kau berbuat seperti itu, ini bukan sekali. Mempermainkan perasaanku.
Sah-sah saja kok kalau aku membalas itu semua, dan itu dpt di benarkan. Tapi untuk apa? Membalas perlakuanmu, aku sudah nebak akhirnya seperti apa, sabar dgn membiarkan saja, toh perlakuanmu seperti itu, pasti berulang lagi.
Ikhlas itu memang susah, aku merasakannya skrg, apa yg aku yakini ternyada beda dengan kenyataan. Yg dulu ikhlas hanya di mulut, prakteknya susah bgt. Aku teringat cerita orang tua ku, ketika orang tuaku di sakiti dia dtg ke seorang ulama, bertanya, pak bisa gak saya membalas atau mendoakan yg buruk untuk orang yg menyakita saya? Jawab ulama itu ‘bisa, tapi alangkah baiknya kau ikhlaskan karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Membalas. Kau serahin aja sama Tuhan masalahmu itu”. Toh sikap ikhlas orang tuaku ternyata Tuhan membalasnya, orang yg dulu menyakiti orang tuaku hidupnya gak tenang ampe skrg, jadi buronan polisi dan ada yg sudah di penjara. Tuhan ternyata yg membalas sikap itu semua. Orang tuaku gak perlu mengotori doa dan tangannya.
Sama apa yg kau lakuin skrg, kamu gak pernah tau, betapa sakitnya hati ini, hancur. Karena harapan sudah aku serahin semuanya seperti apa yg kau bilang, ujung akhir crita kita. Aku harus menerima ini semua, bahwa kau bukan milik aku lagi, walaupun tanpa kata, toh hatimu bukan milik aku lagi. Mungkin ini skenario Tuhan. Aku harus ikhlas, terserah kau mau nyakiti aku, sikapmu yg mengkhianati cinta ini, bersikap semaumu. Mudah-mudahan hatiku seperti samudra yang luas, menerimah satiap apa yg kau buang, sampah, kotoran, apa aja, aku berusaha menerima. Seperti itulah seharusnya ikhlas, menerima apa aja yg terjadi, mesti di sakiti berkali-kali. Biarlah Tuhan yg membalas semua itu. Tuhan Maha Tahu dan Maha Membalas. Urusan kita udah aku serahin ke Tuhan. tidak perlu akumengotori doa n tanganku.
Terima kasih buat kamu, smoga aku makin mengerti dan bijak dlm menyikapi ini semua. Mungkin ada makna di balik itu, Tuhan slalu membimbing aku dengan tanda-tandanya. Aku yakin itu.

Rabu, 25 April 2012

Kado untukmu


Hari ini browsing2 di internet, baca2 tentang dunia petualangan, lait foto2 perjalanan....dak tak di sangka sebuah jawaban akan kebenaran...aku menemukankannya...bukan mencoba untuk mengulang atau membangkitkan luka lama. Tapi ini lebih nyata, pengkhiatan itu memang nyata, dan aku semakin tau siapa pengkhiatan itu. Ini bukan crita tentang sebuah pengkhianatan, tapi bercerita tentang sebuah kebenaran, bisa juga sebuah keikhlasan. Entahlah...aku hanya menulis mengalir apa yg aku rasa skrg.
Kau yg aku puja, seperti inginmu sendiri, layaknya sebuah putri. Bahkan kepercayaan sepenuhnya akan kesetiaan sudah aku serahkan. Tidak ada lagi yg bisa aku berikan kecuali kepercayaan dan cinta. Seperti inginmu. Kau sendiri yg berjanji untuk menjaga cinta itu dan aku percaya itu. Ini bentuk sebuah kepasraaan akan pasangannya. Memantaskan aja, seperti itulah.
Tapi apa yang terjadi, kau hancurkan semuanya, pergi tanpa pesan apapun,  tanpa kata perpisahan. Mungkin itu emang gak penting, toh untuk apa, pengkhianatan gak layak untuk pamit, gak layak sebuah kata perpisahan. Aku juga awalnya gak tau, untuk apa ini, hanya sebuah intuisi. Intuisiku emang tajam untuk hal seperti ini. Bukan sombong, tp emang terbukti. Intuisi dulu, baru nyari bukti. Tapi emang bener, toh kebenaran pasti akan menang, dan kebobrokan pasti akan ketahuan, hanya nunggu waktu, bersabar karena waktu akan menjawabnya.
Tapi aku cukup berterima kasih, atas sakit hati yang kau berikan, atas kemunafikan yg kau pamerkan, atas cinta ku yg kau hempaskan, atas kepercayaan yang kau khianati. Aku semakin tau yang namanya ikhlas, tau yang namanya di khianati, semakin mengerti arti cintamu padaku dan aku semakin mengenalmu. Akan aku bingkai kado pengkhianatan ini, akan aku abadikan, akan aku kenang sepanjang masa. Waktu mungkin bisa menghapus luka, tapi tidak akan menghapus jejaknya, bahwa aku pernah berhadapan dengan seorang pengkhianat. Dekat sekali, bahkan diri ini menyentuhnya, memeluknya bahkan mencumbunya.
Mungkin kau tidak akan kembali di kota ini, tapi percayalah ada dan tiada dirimu di kota ini, kenangan pengkhianatan itu tetap ada. Mungkin kau bercerita cerita kita berakhir, tapi percayalah, itu sebuah kebohongan yg nyata, seperti katamu, tidak akan menjalin sebuah hubungan kalau belum selesai, itulah kebohongannya. Mungkin emang pantas kata-katamu di masukkan ke tong sampah. Itu lebih layak aku pikir. Lebih pantas, sekalian aja jilbabmu..
Terima kasih, kata ini untukmu, aku bisa bersikap bijak dalam menyikapi ini, smoga. The power of ikhlas. Mungkin seperti itu. Aku akan berusaha untuk itu, di tengah hancurnya kepingan2 hati ini. Mungkin kau di ciptakan bukan untuk aku, tapi untuk mengajariku menjadi dewasa atas sebuah pengkhianatan cintamu.  
Cerita ini tidak akan selesai di sini, karena pengkhianatan itu abadi untuk di kenang.