Kali ini
akan bercerita tentang apa yg aku rasakan akhir-akhir ini, perasaanku hancur,
ini berkali-kali, seperti biasa gak bisa cerita ke orang, cukup aku menulis dan
curhat dengan Tuhan...ntar kamu yg di sana membaca atau gak,, itu gak penting lg. yg jelas ini apa yg
aku rasa, tentang kita.
Perasanku
hancur ketika tau kau sudah ada yg punya, padahal hubungan kita belum berakhir,
gak perlu tau di mana aku tau itu semua, toh intiusi aku lebih tajam dari pada
yang kau kira, buktinya ada kok dan nyata bgt. Bukan aku gak tau dengan apa yg
kau lakukan, walaupun jauh, aku tau klo kau mengkhinatiku, membohongiku,
menjilat kembali kata-katamu sendiri. Tapi untuk apa kau khianati aku? Bukannya
udah sering dan kau janji tidak akan melakukan itu lagi?
Kadang
selalu terpikir di benakku untuk membalas semua perlakuanmu kepadaku. Aku bisa
membalas lebih kejam dengan apa yang kau lakukan kepadaku. Ini bukan perkarah
gampang buatku. Apa salahnya membalas kelakuan bejatmu kepadaku, kebohongan yg
sering kau lakukan. Pengkhianatan yg kau lakukan. Asal kamu tau, Sakit banget
klo di bohongin dengan orang yg kita sayang dan kita percayai, sakitnya tu nikam
bgt ampe ke ulu hati. Susah bgt ngelupain itu. Aku bisa membalas lebih kejam,
dengan caraku sendiri, karena aku juga manusia biasa yg bisa sakit hati terus membalas
sakit hatiku dan aku gak bisa bersabar trus dengan sikapmu yg berulang-ulang
seperti itu. kesabaranku ada batasnya. Cinta dan kepercayaan yg aku berikan
ternyata dengan gampang kau khianati. Apa yg kau mau sehingga kau berbuat
seperti itu, ini bukan sekali. Mempermainkan perasaanku.
Sah-sah
saja kok kalau aku membalas itu semua, dan itu dpt di benarkan. Tapi untuk apa?
Membalas perlakuanmu, aku sudah nebak akhirnya seperti apa, sabar dgn
membiarkan saja, toh perlakuanmu seperti itu, pasti berulang lagi.
Ikhlas
itu memang susah, aku merasakannya skrg, apa yg aku yakini ternyada beda dengan
kenyataan. Yg dulu ikhlas hanya di mulut, prakteknya susah bgt. Aku teringat
cerita orang tua ku, ketika orang tuaku di sakiti dia dtg ke seorang ulama,
bertanya, pak bisa gak saya membalas atau mendoakan yg buruk untuk orang yg
menyakita saya? Jawab ulama itu ‘bisa, tapi alangkah baiknya kau ikhlaskan
karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Membalas. Kau serahin aja sama Tuhan masalahmu
itu”. Toh sikap ikhlas orang tuaku ternyata Tuhan membalasnya, orang yg dulu
menyakiti orang tuaku hidupnya gak tenang ampe skrg, jadi buronan polisi dan
ada yg sudah di penjara. Tuhan ternyata yg membalas sikap itu semua. Orang
tuaku gak perlu mengotori doa dan tangannya.
Sama apa
yg kau lakuin skrg, kamu gak pernah tau, betapa sakitnya hati ini, hancur.
Karena harapan sudah aku serahin semuanya seperti apa yg kau bilang, ujung
akhir crita kita. Aku harus menerima ini semua, bahwa kau bukan milik aku lagi,
walaupun tanpa kata, toh hatimu bukan milik aku lagi. Mungkin ini skenario
Tuhan. Aku harus ikhlas, terserah kau mau nyakiti aku, sikapmu yg mengkhianati
cinta ini, bersikap semaumu. Mudah-mudahan hatiku seperti samudra yang luas,
menerimah satiap apa yg kau buang, sampah, kotoran, apa aja, aku berusaha
menerima. Seperti itulah seharusnya ikhlas, menerima apa aja yg terjadi, mesti
di sakiti berkali-kali. Biarlah Tuhan yg membalas semua itu. Tuhan Maha Tahu
dan Maha Membalas. Urusan kita udah aku serahin ke Tuhan. tidak perlu akumengotori doa n tanganku.
Terima
kasih buat kamu, smoga aku makin mengerti dan bijak dlm menyikapi ini semua.
Mungkin ada makna di balik itu, Tuhan slalu membimbing aku dengan
tanda-tandanya. Aku yakin itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
koment baik2