Hari ini browsing2 di internet, baca2 tentang dunia
petualangan, lait foto2 perjalanan....dak tak di sangka sebuah jawaban akan
kebenaran...aku menemukankannya...bukan mencoba untuk mengulang atau
membangkitkan luka lama. Tapi ini lebih nyata, pengkhiatan itu memang nyata,
dan aku semakin tau siapa pengkhiatan itu. Ini bukan crita tentang sebuah
pengkhianatan, tapi bercerita tentang sebuah kebenaran, bisa juga sebuah
keikhlasan. Entahlah...aku hanya menulis mengalir apa yg aku rasa skrg.
Kau yg aku puja, seperti inginmu sendiri, layaknya sebuah
putri. Bahkan kepercayaan sepenuhnya akan kesetiaan sudah aku serahkan. Tidak ada
lagi yg bisa aku berikan kecuali kepercayaan dan cinta. Seperti inginmu. Kau sendiri
yg berjanji untuk menjaga cinta itu dan aku percaya itu. Ini bentuk sebuah
kepasraaan akan pasangannya. Memantaskan aja, seperti itulah.
Tapi apa yang terjadi, kau hancurkan semuanya, pergi tanpa
pesan apapun, tanpa kata perpisahan. Mungkin
itu emang gak penting, toh untuk apa, pengkhianatan gak layak untuk pamit, gak
layak sebuah kata perpisahan. Aku juga awalnya gak tau, untuk apa ini, hanya
sebuah intuisi. Intuisiku emang tajam untuk hal seperti ini. Bukan sombong, tp
emang terbukti. Intuisi dulu, baru nyari bukti. Tapi emang bener, toh kebenaran
pasti akan menang, dan kebobrokan pasti akan ketahuan, hanya nunggu waktu,
bersabar karena waktu akan menjawabnya.
Tapi aku cukup berterima kasih, atas sakit hati yang kau
berikan, atas kemunafikan yg kau pamerkan, atas cinta ku yg kau hempaskan, atas
kepercayaan yang kau khianati. Aku semakin tau yang namanya ikhlas, tau yang
namanya di khianati, semakin mengerti arti cintamu padaku dan aku semakin
mengenalmu. Akan aku bingkai kado pengkhianatan ini, akan aku abadikan, akan
aku kenang sepanjang masa. Waktu mungkin bisa menghapus luka, tapi tidak akan
menghapus jejaknya, bahwa aku pernah berhadapan dengan seorang pengkhianat. Dekat
sekali, bahkan diri ini menyentuhnya, memeluknya bahkan mencumbunya.
Mungkin kau tidak akan kembali di kota ini, tapi percayalah
ada dan tiada dirimu di kota ini, kenangan pengkhianatan itu tetap ada. Mungkin
kau bercerita cerita kita berakhir, tapi percayalah, itu sebuah kebohongan yg
nyata, seperti katamu, tidak akan menjalin sebuah hubungan kalau belum selesai,
itulah kebohongannya. Mungkin emang pantas kata-katamu di masukkan ke tong
sampah. Itu lebih layak aku pikir. Lebih pantas, sekalian aja jilbabmu..
Terima kasih, kata ini untukmu, aku bisa bersikap bijak
dalam menyikapi ini, smoga. The power of ikhlas. Mungkin seperti itu. Aku akan
berusaha untuk itu, di tengah hancurnya kepingan2 hati ini. Mungkin kau di
ciptakan bukan untuk aku, tapi untuk mengajariku menjadi dewasa atas sebuah
pengkhianatan cintamu.
Cerita ini tidak akan selesai di sini, karena pengkhianatan
itu abadi untuk di kenang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
koment baik2