My Adventure

My Adventure Slideshow: Abus’s trip from Semarang, Jawa, Indonesia to 5 cities Lombok, Surabaya, Denpasar, Cirebon and Jambi was created by TripAdvisor. See another Indonesia slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.

Senin, 12 Maret 2012

Gunung Kerinci Bergoyang

Satu hari setelah Hari Raya Idul Fitri tahun 2009 saya di hubungi temen via handphone.
Bro saya mau naik Gunung Kerinci ni, temanin ya?” suara di balik handphoneku  
“Kapan?” aku balas.  
“Lebaran ke 5 aku udah berangkat dari Bogor” kata temanku lagi.
Ok Yud, hubungi kalo udah mau berangkat dari Bogor” balasku lagi. Yudi temanku dari Lawalata IPB Bogor. Sebulan sebelumnya dia sudah menghubungi via sms bahwa pengen mendaki Gunung Kerinci setelah Idul Fitri dan aku menyanggupi untuk mengantarnya. Sehari sebelum berangkat ke Jambi, Yudi menghubungi lagi.
 Bro, besok saya berangkat pake pesawat ke Jambi, tunggu ya dan jemput di bandara”. Yudi menghubungiku via sms.
Ok, kasih tau aja kalau udah berangkat dan sampai di bandara”, jawabku.
Kebetulan waktu itu aku lagi di Riau, jadi aku hubungi anak-anak yang di sekretariat untuk menjemput Yudi di Bandara. Aku pun memutuskan mengakhiri liburan lebaran di Riau dan pamit ke orang tua untuk berangkat ke Jambi pada keesokan harinya. Dalam perjalanan menuju Jambi, saya menghubungi Fanny, teman yang di Sungai Penuh, Ibukota Kabupaten Kerinci, menanyakan tentang kondisi terkini Gunung Kerinci. Dan kondisinya cukup aman untuk didaki, walaupun pernah batuk-batuk beberapa minggu yang lalu dan akhir-akhir ini sering keluar asap hitam dari kawahnya dan teman-teman juga sudah ada yang mau naik dan sudah standby di Sungai Penuh bahkan ada juga yang dari Padang, kita janjian ketemu di Sungai Penuh. Kayaknya rame ne mau naik, pikirku. Ekspedisi Lebaran, biasa anak-anak menyebutnya dan ini tradisi hampir setiap tahun di Mapala SIGINJAI Unja, setelah Lebaran Idul Fitri, .
Sampai di Kota Jambi aku langsung menuju ke Sekretariat, untuk bertemu Yudi dan ngasih tau kalau besok malam berangkatnya karena aku baru sampai dari Riau dan butuh istirahat dulu setelah perjalanan laut dan darat selama 4 jam.
Jam 8 malam Dengan menggunakan mobil travel aku dan Yudi meluncur menuju Sungai Penuh. Di dalam perjalanan rencananya mau istirahat aja di mobil karena tadi siang sibuk menyiapkan perlengkapan dan logistik tapi karena jalan cukup rusak dan tidak mulus membuat kita susah tidur di dalam mobil, music yang full house menambah siksaan ini. Karena mobil berjalan dengan kecepatan tinggi, duduk berdua di bagian belakang  otomatis seperti di lempar ke kiri dan kanan seperti di laut di hantam ombak. Sampai di Sungai Penuh sekitar jam 5 subuh, kondisi masih ngantuk karena kurang tidur. Jalanan Sungai Penuh basah, sepertinya tadi malam di guyur hujan. Suhunya cukup dingin apalagi di tambah abis hujan.


Setelah ketemu dengan kawan-kawan di tempat yang di janjikan, kita meluncur menuju Desa Kersik Tuo, desa yang paling dekat dengan jalur pendakian Gunung Kerinci. Team kami jadi 6 orang, Iin yang langsung dari Padang, Kamal dari Bangko dan Heri serta Fanny yang sudah menunggu di Sungai Penuh. Naik mobil angkutan desa menuju Tugu Macan Desa Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro. 
Pintu Rimba
Dalam perjalan ke Desa Kersik Tuo kami gunakan untuk tidur, walaupun kurang puas, tapi lumayan untuk membunuh rasa ngantuk ini, setelah lebih kurang satu jam lebih sampai juga di Tugu Macam, sebuah tugu dengan patung Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumaterae) berdiri di simpang yang menuju Pintu Rimba Gunung Kerinci dengan pemandangan Gunung Kerinci di belakangnya dan hamparan kebun teh, teh di kaki Gunung Kerinci sangat terkenal dengan kwalitasnya dan sudah menjadi andalan ekspor Kabupaten Kerinci. hamparan kebun teh menjadi pemandangan tersendiri yang sayang untuk di lewatkan. kemudian menggunakan jasa ojek menuju Pintu Rimba karena di putuskan langsung naik jadi gak nginap di kaki gunung, pemandangan kebun teh berganti tanaman kol, tomat, cabe dan tanaman sayur-sayuran sebelum sampai di Pintu Rimba. Perkebunan penduduk sudah merambah ke kawasan TNKS, batas TNKS dan kebun penduduk semakin tidak jelas, ini sangat di sayangkan karena bisa menganggu keseimbangan ekosistem yang ada di kaki Gunung Kerinci .
Istirahat di Pintu Rimba (1.682 mdpl) sambil menunggu Heri yang membeli logistik yang kurang dan sekaligus melapor ke Kepala Desa tentang pendakian kami. Pos TNKS (Taman Nasional Kerinci Sebelat) jarang sekali di jaga jadi pendaki melaporkan kegiatan pendakiannya ke Kepala Desa. Padahal ada pos di kaki Gunung  yang terletak di R 10 tapi jarang dijaga oleh petugas TNKS, padahal kondisi gunung kerinci sedikit batuk-batuk, walaupun begitu kami tetap naik Karena melihat kondisi nantinya di atas kalau memang tidak memungkinkan untuk ke puncak kami akan turun.
Batu Lumut

Shelter 1
Aku dan Yudi memutuskan untuk melanjutkan perjalanan karena sudah siang sekitar pukul 10 dan Heri belum juga muncul. Kita janjian ketemu di Shelter 2, sebagai lokasi Camp terakhir kami untuk ke Puncak dan shelter 2 cukup aman karena musim hujan takut ada badai jika ngecamp di shelter 3. Jalur yang di lalui belum terlalu terjal, bahkan masih landai dengan vegetasi yang masih heterogen, dalam perjalanan ini sempat nyasar di atas Pesenggerahan, ternyata jalur yang saya lalui jalur penduduk yang mau ke kebun jadi terpaksa mundur ke Pesenggrahan kemudian melanjutkan ke jalur yang biasa dilalui. Walaupun ini yang ke 4 kali ke Gunung Kerinci, aku masih juga belum hapal jalur, ya itulah ke unikan dunia pendakian, seberapapun seiringnya ke gunung yang sama, pasti tidak terlalu hapal jalur, dan itu berlaku di gunung manapun. Sampai di Bangku Panjang yang mempunyai ketinggian 1.782 mdpl, kamipun istirahan untuk melepas lelah sebentar. Kemudian melanjutkan lagi perjalanan menuju Batu Lumut, jalur sudah mulai menanjak dan sudah sedikit sulit. Di Batu Lumut istirahat dan mengambil beberapa gambar selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Shelter 1. Jalur ke shelter 1 lebih sulit dari yang tadi, semakin menanjak dan kanopi pepohonan makin tebal dan pohon-pohon yang besar-besar menjadi pemandangan yang biasa di lihat. Sampai di Shelter 1 (2.512 mdpl) kita istirahat untuk mengisi perut yang mulai keroncongan karena memang sudah waktunya makan siang, tapi kami memutuskan untuk tidak makan siang karena repot kalau mau masak lagi, jadi hanya makan roti, coklat, buah dan makanan ringan lainnya untuk mengganti kalori yang terbuang. Sambil istirahat kami menunggu Heri dan yang lainnya, tapi setelah setengah jam menunggu dan mereka belum juga datang, kami memutuskan untuk langsung ke Shelter 2 tempat yang sudah kita janjikan untuk ngecamp.
Shelter 2
Aku dan Yudi kembali menyusuri jalur pendakian Gunung Kerinci menuju shelter 2, di jalur ini paling membosankan untuk jalur Gunung Kerinci karena melewati lorong bekas jalur air, sempit, licin bahkan dengan kemiringan 45 derajat dan atasnya tertutup kanopi pepohonan, jadi gak ada yang bisa dilihat kecuali hutan dan jalur pendakian. Pendakian semakin membosankan karena hujan turun dengan derasnya, akhirnya aku basah kuyup karena rain coat yang aku pakai kurang bisa menahan air hujan cukup lama apalagi hujannya cukup deras tapi kami tetap melanjutkan perjalanan karena takut gelap ketika sampai di Shelter 2. Hujan akhirnya berhenti tetapi cobaan belum berhenti juga karena kaki aku kram beberapa kali dan memutuskan untuk istirahat sambil mengurut kaki. Akhirnya aku menyuruh Yudi untuk duluan dan membuka tenda karena Shelter 2 sudah dekat dan saya memilih untuk istirahat lama biar kaki saya bisa sedikit pulih. Pukul 16.30 Akhirya dengan sedikit merangkak aku sampai juga di Shelter 2 (3.072 mdpl) dan tenda sudah siap. Istirahat sebentar sambil terus mengurut kaki, kemudian waktunya untuk menyalurkan hobby di gunung, masak-masak.
Waktu Yudi lagi masak di depan tenda dan aku lagi ganti baju di dalam, tiba-tiba tenda bergoyang sangat kencang  sekitar beberapa detik, kemudian kami diam dan saling pandang, setelah bebarapa saat hening, tiba-tiba tempat yang kami duduki bergoyang lagi beberapa kali dan ini lebih kencang dan cukup lama, sedikit membuat kepala pusing. waktu itu sekitar pukul 6 sore, aku hanya menebak karena diantara kami berdua tidak ada yang membawa jam, sedangkan handphone di nonaktifkan untuk menghemat baterai. Setelah goncangan itu berhenti Yudi melihat kebelakang tenda, tanpa ngomong apa-apa kemudian duduk lagi.
“Sepertinya tadi gempa” aku membuka percakapan.
“Iya, apa gunung kerinci mau meletus ya?” Tanya Yudi
“Kurang tau Yud, moga aja gak” jawabku singkat karena masih sedikit kaget dengan goncangan tadi.
“Bu sepertinya kondisi sekeliling kita hening” kata yudi mencoba mengingatkan sesuatu
“Iya” jawab aku
Kemudian Yudi mengeluarkan kepalanya lagi dari tenda dan melihat sekeliling
“Tenang Yud, sekarang magrib, jadi wajar aja kalau kondisinya tenang” kata aku sama Yudi, mencoba menghibur diri sendiri karena Yudi juga terlihat gelisah sama seperti aku. Sepertinya kami mempunyai pikiran yang sama. Bukankah tanda-tanda gunung yang mau meletus kondisinya tenang, hening dan binatang-binatang berhamburan turun ke bawah. Sepertinya kita menunggu aba-aba dari binatang yang turun dan mengajak lomba lari ke bawah. Tapi ternyata aba-aba dari binatang itu tidak juga datang.
Masih bingung apa yang harus dilakukan, sederhanya masih syok dengan goncangan tadi dan mencoba menebak-nebak apa yang  bakalan terjadi selanjutnya. Karena di shelter 2 hanya kami berdua, kawan-kawan yang lain belum juga datang dan kondisi sudah mulai gelap. Di tengan kebingungan kami berdua, aku mengaktifkan handphone untuk mencari berita apa yang sebenarnya terjadi sambil menghubungi rombongan Heri, di Gunung Kerinci signal salah satu operator seluler memang ada jadi memudahkan pendaki untuk mencari info atau berhubungan dengan yang lainnnya. Nomor Heri dan kawan-kawan yang lain tidak bisa di hubungi, tapi aku yakin kalau mereka gak nyampe di shelter 2, mereka pasti memutuskan untuk ngecamp di shelter 1 karena mereka sudah mengenal dan sudah sering mendaki Gunung Kerinci.
Satu pesan masuk dari kawan yang di Jakarta
“Kalian di mana? Ada gempa di Sumatera Barat, ratusan orang meninggal dunia dan menurut BMKG akan ada gempa susulan”
Kemudian masuk lagi pesan dari kawan yang di Jambi
“Hati-hati kalau naik Kerinci, ada gempa di Sumbar, getarannya sampai di Jambi dan di Kerinci getarannya sangat terasa”
Kemudian pesan masuk lagi
“Di mana? Sumbar gempa, ratusan meninggal dunia dan gempa susulan akan ada lagi”
 Pesan masuk lagi
“Suruh Yudi aktifkan nomornya, mamanya nyari tu dan nangis-nangis, karena di Sumbar dan Kerinci ada gempa. Kalian tidak apa-apakan?”

Akupun membalas pesan itu sekedarnya dan member tau kondisi kami baik-baik aja. Sedikit lega juga karena sudah tau apa yang terjadi, tapi kami tetap waspada, karena walaupun gempanya di Sumbar, tapi getarannya pasti berpengaruh dengan kondisi Gunung Kerinci apa lagi sekarang memang Gunung Kerinci lagi batuk-batuk. Sebagai daerah yang melewati patahan lempeng bumi, tentu aktifitas Gunung Kerinci menjadi perhatian terkait gempa yang terjadi di Sumbar, karena sebagai gunung yang masih aktif, tentu kerinci sedikit terganggu dengan getaran gempa tersebut dan berpeluang memuntahkan lahar panas dan abu vulkanik.
Malam itu kami melewatkan malam di shelter 2 hanya berdua karena team yang lain belum nongol juga dan handphonenya gak bisa di hubungi. Mereka pasti ngecamp di shelter 1, pikirku. Akupun masih sedikit was-was, apa besok ke puncak ya? Kami memutusakan untuk istirahat setelah makan malam karena kalaupun memutuskan ke puncak, subuh hari sekitar jam 3 pagi kami sudah harus bergerak untuk melakukan summit attack, karena perjalanan masih sekitar 3 jam. Di atas jam 10 siang kawah Gunung Kerinci sudah mengeluarkan belerang dan angin akan bertiup ke arah jalur pendakian, jadi pendaki di sarankan untuk melakukan Summit Attack subuh hari atau pagi-pagi sekali untuk menghindari bau belerang dan gas beracun dari kawah, di atas jam 10 untung-untungan untuk bisa sampai di puncak.
Malam itu kurang bisa tidur, karena angin bertiup kencang sepertinya ada badai dan hujan mulai turun. Tapi di Shelter 2 cukup aman dari badai karena sedikit tertutup. Aku mengaktifkan handphone untuk melihat jam, pukul 3 pagi. Karena kondisi gak memungkinkan untuk summit attack, kami lanjutkan tidur lagi. Jam 5 bangun lagi, tapi kondisi masih hujan, badai sudah reda, tapi karena cuaca belum memungkinkan, akhirnya kami melanjutkan tidur lagi. Jam 6.30 hujan sudah mulai reda, tapi masih ngerimis, akhirnya kami bangun dan mempersiapkan sarapan, siapa tau hujan langsung berenti. Setelah sarapan, hujan berhenti dan kami lansung keluar tenda untuk melakukan summit attack. Setelah sudah siap, logistik dan peralatan kepuncak, kamera gak ketinggalan, perlengkapan yang wajib tentunya, akhirnya kami ke puncak.
Jalur menuju shelter 3
Jalur tambah licin tapi sedikit jelas, ini baru pertama kali ke puncak sudah siang, biasanya jam 3 atau paling telat jam 5 pagi. Was-was juga apa yang bakalan terjadi. Kami tidak memikirkan lagi gempa kemarin sore, kami hanya terus berjalan karena seolah di kejar waktu, takut belerang sudah mulai keluar dan angin bertiup kearah jalur pendakian. Sebelum Shelter 3 ada 2 buah tenda, rupanya ada bule yang ngecamp dan sepertinya mereka di hantam badai tadi malam karena tendanya sedikit amburadul dan terdengar dari percakapan dari guidenya tentang badai tadi malam dan mereka mau turun karena keluarga di Padang kena gempa dan tidak melanjutkan pendakiannya. Sepertinya mereka dari Padang. kamipun hanya menyapa “Hai” saja dan terus melanjutkan perjalanan. 30 menit perjalana dari shelter 2 akhirnya tiba di shelter 3 (3.320 mdpl). Vegetasi di kawasan shelter 3 di dominasi pohon cantigi, pohonnya pendek-pendek sehingga bisa melihat pemandangan di sekililing, gunung 7 dan danaunya sudah mulai kelihatan walaupun sedikit tertutup kabut.
Batas Vegetasi
Dari shelter 3 puncak kerinci belum kelihatan karena tertutup kabut, istirahat sambil ngambil beberapa gambar, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi, sedikit optimis bahwa puncak masih bisa di raih, melihat kondisi tenang, bahkan angin tidak bertiup sedikitpun, hanya kabut yang mulai menyelimuti kawasan puncak. Batas vegetasi sudah lewat dan tanpa banyak bicara kaki kami terus melangkah menapaki pasir-pasir dan batu-batu Gunung Kerinci. Satu jam perjalan dari Shelter 3 kabut menyelimuti, sekitar perjalan kami, disertai gerimis dan angin kencang, pandangan hanya sekitar 20 meter, tapi jalur masih bisa di kenali. Tidak banyak yang bisa kami lakukan kecuali terus berjalnan, yang jelas aku dan Yudi harus sampai ke puncak. Ini memang kondisi terburuk yang aku alami sejak beberapa kali mendaki Gunung Kerinci. Puncak belum juga kelihatan, masih di selumuti kabut.
Dingin yang mencapai sekitar 5 derajat celcius tidak menyerutkan langkah kami, angin kencang dan gerimis, kabut yang naik makin tebal, pandangan hanya sekitar 10 meter jauhnya terus menemani pendakian kami ketika mendekati Tugu Yudha. Sebuah tugu untuk mengenang hilangnya Yudha dan Adi Permana bahwa di sinilah titik terakhir mereka. Langkah-langkah berat itu mulai terasa, sedikit demi sedikit kami terus melangkahkan kaki, sangat terasa berat dengan medan yang berbatu dan berpasir dan  dengan sudut kemiringan sampai 45-60 derajat sehingga kadang kami harus merangkak beberapa kali. sesekali istirahat sambil meneguk minuman mineral dan makan coklat sambil jalan untuk menambah tenaga. Di tugu Yudha hanya istirahat menarik nafas, tanpa banyak bicara kami melanjutkan lagi ke puncak karena puncak sekitar 20 menit jalan normal. Kabut makin tebal tetapi angin sudah mulai reda walaupun gerimis masih turun.
Yudi di TOP Sumatera
Di TOP Sumatera
Kabut bahkan makin tebal, pandanga tidak lebih dari 10 meter ketika kami menginjakkan kaki di Atap Sumatera, Top Kerinci 3.810 mdpl. Akhirnya kami bersyukur karena berhasil menginjakakn kaki di Atap Sumatera di tengah badai dan kabut. Tidak ada yang bisa di saksikan di puncak karena kabut tebal dan asap hitam dari kawah yang bertype strato (masih aktif) ini sudah kaluar dan bercampur dengan kabut. Bahkan kawah yang luasnya 400x120 meter ini tidak kelihatan, puncak yang panjangnya sekitar 30x3 meter tidak dapat kami saksikan semua hanya sebuah gundukan batu dan sebuah bendera merah putih yang sedikit pudar warnanya sebagai tanda bahwa itu puncak.
Hanya 5 menit di puncak, foto-foto kemudian turun lagi, karena cuaca sangat buruk, takut ada badai dan angin sudah mulai bertiup ke arah jalur pendakian. Jadi kami putuskan untuk istirahat di bawah tugu yudha. Jalan turun semakin sulit karena pandangan hanya berjarak 5 meter, gerimis dan badai sudah reda. Ketika turun melewati tugu Yudha sempat nyasar kearah kiri jalur turun, melenceng sekitar 30 derajat, karena jalur tidak kelihatan, kabut masih tebal walupun sudah mulai berkurang. Sadar ketika belum terlalu jauh turun ke jurang, akhirnya tetap melanjutkan perjalanan tetapi sedikit mengambil kearah kanan untuk mencari tanda jalur pendakian. Setelah ketemu jalur kemudian terus melanjutkan perjalan turun. Setelah ketemu tempat yang sedikit datar, kami istirahat, istirahat cukup lama, karena dari tadi belum istirahat karena mengejar puncak dan kondisi tidak memungkinkan untuk istirahat. Waktu istirahat aku mengaktifkan handphone untuk melihat jam. tiba-tiba handphone berdering seorang teman dari Jambi menghubungi.
Puncak Kerinci yang tertutup kabut
“Di mana posisi? Cepat turun” kata suara di balik handhone
“Emang kenapa?” Jawabku singkat sambil tertawa.
“Kok ketewa, cepat turun, jam 8 pagi tadi ada gempa di Kabupaten Kerinci, pusatnya di Sungai Penuh dan akan ada gempa susulan” kata suara itu lagi
“Posisi sekarang di bawah Tugu Yudha, sudah dari puncak dan mau segera turun” jawab aku lagi.
“Ya udah turun, takutnya ada gempa susulan” kata suara itu lagi.
Ok.” Aku matiian handphone.
Istirahat setelah dari puncak
Kemudian aku cerita ke Yudi kalau ada gempa di Sungai Penuh tadi pagi dan kita harus segera turun. Tapi karena kelelahan kami tetap istirahat, kabut masih juga belum pergi, Gunung Tujuh belum kelihatan juga. Puas istirahat dan mengambil beberapa gambar, akhirnya kami turun ke shelter 2, karena memang sudah siang jadi kami tidak mampir di shelter 3. Apalagi perut sudah lapar karena hanya di isi roti, coklat dan beberapa makanan ringan dari tadi pagi.
Sampai di Shelter 2 kami masak dan istirahat, kami memutuskan untuk tidak turun langsung karena masih kelelahan dan sudah siang jadi kalau turun, kemungkinan malam sampai di Pintu Rimba. Jadi kami tetap ngecamp di shelter 2. Sore hari shelter 2 kedangan pendaki lagi dari Bekasi berjumlah 6 orang. Kondisi mereka sedikit kelelahan dan kami menanyakan Heri dan kawan-kawan lainnya. Dari informasi mereka akhirnya aku tau kalau Heri sudah turun dari tadi pagi karena ada gempa susulan di Sungai Penuh. Malam ini sedikit rame karena kedatangan pendaki dari Bekasi tidak seperti malam kemarin. Akhirnya kamipun tidur dengan sedikit puas karena sudah mencapai puncak, tinggal bagaimana besok turun dan kembali pulang dengan selamat.
Pagi-pagi setelah sarapan kemudian melanjutkan perjalanan turun, sedangkan pendaki dari Bekasi lagi summit attack tadi pagi-pagi sekali, cuaca cukup cerah, mereka beruntung sekali, pikirku. Dalam perjalanan turun tidak menemukan kendala apapun, sebelum siang sudah sampai di Pintu Rimba kemudian melanjutkan perjalanan ke Tugu Macam, setelah istirahat kemudian melanjutkan perjalanan ke Gunung Tujuh. Dan besok malamnya baru pulang ke Jambi.
Sebuah pendakian yang berkesan karena di tengah ketidakpastian akan kondisi Gunung Kerinci yang habis di gonjang gempa Sumatera. Tidak mudah mengambil keputusan untuk terus mendaki ke puncak di tengah hujan, badai dan kabut yang membatasi pandangan. Sebuah resiko mesti di ambil, hajar ke puncak di tengah badai atau turun dengan kepastian akan selamat dari badai. Tapi itulah dunia pendakian, keputusan yang tepat akan mengiringi kesuksesan sebuah perjalanan pendakian. Sukses bukan hanya ketika sampai di puncak gunung, tapi bagaimana kita (pendaki) kembali dengan selamat, karena masih banyak puncak yang menunggu untuk di daki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

koment baik2