My Adventure

My Adventure Slideshow: Abus’s trip from Semarang, Jawa, Indonesia to 5 cities Lombok, Surabaya, Denpasar, Cirebon and Jambi was created by TripAdvisor. See another Indonesia slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.

Jumat, 10 Februari 2012

HIDUP HARUS LEBIH DARI SEKEDARNYA

Bulan februari 2012 menjadi bulan kesedihan buat para penggiat alam bebas khususnya yang menamakan diri sebagai pecinta alam. 3 tragedi yang hampir bersamaan mampu merengut nyawa 3 para petualang muda Indonesia. Saudara Zainul Arifin Mahasiswa  Institut Agama Islam Nurul Jaded (IAINJ) Paito, Probolinggo, meninggal  saat mendaki Gunung Argopuro karena Hipotermia, siswa Diksar Makopala Universita Budi Luhur, Fajar Arohman meninggal saat sedang mengikuti Diksar di kaki Gunung Salak dan Angelina Yofanka anggota Mapala GANESHA ITB Bandung juga meninggal saat melakukan latihan gabungan dengan kawan-kawan MAPALA di Sungai Cikandang Garut.  Pertanyaan, apa para Pecinta Alam yang juga penggiat alam bebas begitu dekat dengan yang namanya kematian? Mungkin itu yang banyak di tanyakan oleh orang-orang awam termasuk keluarga kita yang kurang begitu mengenal dunia Pecinta Alam.
Sadar atau tidak kita di justice seperti itu dan saya pikir anggapan itu klasik dan sudah lama bahwa penggiat alam bebas sangat dekat dengan yang namanya maut. Apa yang harus di jelaskan, toh kejadiannya memang nyata dan 3 saudara-saudari kita memang meninggal saat sedang melaksanakan aktifitasnya di alam terbuka. Apa kita mencoba menutup mata untuk ini? Dan mengatakan ini takdir?
Senior saya di MAPALA sering mengingatkan dengan cerita tentang kerja orang Instalasi Listrik. Kamu liat orang Instalasi Listrik itu, kenapa dia bisa leluasa memegang kabel listik yang mempunyai tegangan tinggi, bahkan dia memegang kabel tanpa sarung tangan sekalipun tapi ternyata dia tidak apa-apa sehat walafiat. Coba kita, berani gak seperti mereka? Gak kan! Karena kita belum belajar tentang itu. Kita penggiat alam begitu juga, kita tau bahaya makanya kita pelajari cara naik gunung, berarung jeram, manjat tebing, penelusuran goa dan lain-lain yang berhubungan dengan dunia petualangan. Dengan belajar kita tau menghindari bahayanya, kita bisa meminimalisir kecelakaannya. Orang awam pasti berpikir kita cari mati ketika kita berjalan di alam bebas. Seperti tukang listrik tadi, kok orang itu gak kenapa ya? Padahal aliran listriknya mempunyai tegangan tinggi. Seperti itulah kita. Makanya kita belajar karena itu dunia kita, kalaupun teman kita meninggal ketika sedang melakukan kegiatan di alam terbuka mungkin ada salah atau ada factor-faktor lain yang tidak dapat ditolak, anggap aja itu takdir. Toh di jalanan kita bisa meninggal, mungkin di rumah dengan keluarga tercinta. Apa bedanya meninggal di alam terbuka dengan di rumah atau di jalanan saat sedang mengendarai kendaraan? Toh sama-sama kita gak bisa menolaknya kapan pun dan dimanapun pasti datang dan kita gak bakalan tau waktunya.
Tapi kenapa penggiat alam terbuka tetap dijustice seperti itu?
Saya akan anggap itu sebagai peringatan buat saya. Perhatian orang awam terhadap para panggiat alam bebas, mungkin akan membuat kita bisa lebih hati-hati, waspada, mawas diri dalam melakukan aktifitas di alam terbuka. Toh dengan berpetualang saya bisa menghargai kehidupan saya. Karena perjalanan saya di gunung misalnya saya tetap mengganggap itu sebagai perjalanan relijius. Bukankah naik gunung sampai ke puncak kemudian turun lagi dan pas kita turun lagi kita seolah-olah mendapatkan energy baru dalam menjalankan kehidupan normal kita. Sama seperti perjalan kehidupan manusia. Lahir, menjalani masa kanak-kanak dan mencapai puncak kedewasaan kemudian menjadi tua dan pasti lebih relius dalam menjalani hari-hari tuanya atau mungkin bahasa kita lebih bijak Karena sudah melewati masa muda yang mengandung nilai-nilai kehidupan. Bukankah itu hampir sama dengan perjalan ketika kita naik gunung.
Norman Edwin pernah berkata “ aku mendaki gunung karena aku menghargai kehidupan”, toh akhirnya tokoh petualang Indonesia ini meninggal di gunung Acouncagua Argentina saat melaksanakan misi seven summit. Beliau memaknai dan menghargai hidup yang lebih dari sekedarnya. ya hidup harus lebih dari sekedarnya. Melakukan kegiatan di alam bebas bukan mendekati maut tapi sebuah proses untuk menghargai sebuah kehidupan, mencintai kehidupan dengan melakukan hal-hal yang luar biasa yang memberi banyak makna ketika kegiatan itu sudah selesai dilakukan.
Hidup harus lebih dari sekedarnya, mungkin itu yang bisa saya jawab ketika orang-orang yang bertanya kenapa banyak petualang dan ada yang meninggal saat melaksankan kegiatan alam bebasnya. Meninggal itu takdir tapi selama kita hidup, kita haru menjalani kehidupan ini dengan luar bisa agar hasilnya pun luar biasa. Kepuasan bathin  disaat menjalani perjalanan ke alam bebas  dan merasakan ciptaan Tuhan pada alam ini akan membuat kita lebih banyak bersyukur dan bertindak untuk lebih bijak, bahwa Tuhan Maha Besar dan kita bukan apa-apa dan ini patut kita syukuri.
 Ataupun mungkin saya diam karena hanya dengan melakukannnya kita akan mengerti kenapa mereka berpetualang. Lihat dari dekat maka kau akan menilai lebih bijak, mungkin kata-kata itu tepat buat para orang awam yang selalu mengkritisasi kenapa banyak orang berpetualang kalau akhirnya meninggal juga dalam perjalanannya. Atau mungkin jawaban George F. Mallory seoraang pendaki Inggris yang hilang di Everest lebih pas, karena gunung itu ada. Ya kalau ngak ada gunung, kita ngak akan mendaki, kalau ngak ada jeram di sungai kita gak akan main arung jeram.
Toh kita juga pasti ngak akan memilih mati ketika berpetualang karena masih banyak petualang-petualangan yang lain yang belum dilakukan. Tapi ketika takdir berbicara, apa kita harus mengelak?
 Gimana dengan Anda??

(slamat jalan kawan, selamat penempuh petualangan yang sesungguhnya…semoga kau senang dan damai di sana di sisiNYA….AMIEN....)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

koment baik2