My Adventure

My Adventure Slideshow: Abus’s trip from Semarang, Jawa, Indonesia to 5 cities Lombok, Surabaya, Denpasar, Cirebon and Jambi was created by TripAdvisor. See another Indonesia slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.

Sabtu, 31 Desember 2011

Ibadah Kaum Petualang


Di dasar lautan ku bertasbih
Di puncak gunung ku bertakbir
Di atas jeram ku bertakhmid
Di celah tebing ku bertafakur
Di perut bumi ku menunduk memuji-Mu

Aku kaum petualang…
Mengembara mencari damai
Akan selalu menikmati kebesaran-Mu
Dari sisi yang berbeda…

Kicau burung membangunkan ku di pagi hari
Diantara kedamaian hutan belantara
Gemercik jeram bernyanyi memanggil ku
Menghibur hati yang sunyi…

Tinggi gunung akan selalu menarik aku
Dari lembah kebisingan kota
Menuju ibadah ku yang berbeda
Memuji-Mu dari sisi yang lain

Menggali panorama dalam lautan
Gelapnya perut bumi…
Tak mengharuskan aku mundur
Memanggil-Mu dengan cara ku

Inilah ibadah kaum petualang
Jauh dari peradaban…
Dekat dengan sang khalik
Berpeluh rindu setiap saat
Pada pencipta alam semesta.

BELAJAR DARI ALAM


Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan, seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan objek-objeknya, mencintai tanah air Indonesia dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dengan dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat kerena itulah kami naik gunung (Soe Hok Gie)

                 Banyak orang bilang mendaki gunung adalah pekerjaan bodoh serta gila, buat capek, kotor, orang yang sering naik gunung adalah amor fati, mencintai kematian dan berbagai macam sebutan untuk seorang pendaki dari orang-orang awam yang sebenarnya belum benar-benar mengetahui hakekat dari mendaki gunung. Toh, para pendaki gunung tetap berjalan dengan tekad dan semangat yang kuat sambil menggendong carier dengan bangganya dan berkata “Gunung Aku Datang”

                 Pernahkah orang berpikir bahwa untuk mencapai puncak suatu gunung memerlukan suatu proses yang panjang dan melelahkan namun dibalik setiap proses yang dilalui tersimpan hikmah perjalanan hidup manusia dan bagaimana seseorang menghargai kehidupan. Disinilah seorang pendaki akan berproses dan proses inilah yang tidak dipahami dan dialamai oleh orang awam lainnya. Mungkin saja jika setiap orang memahami dan meresapi proses ini maka akan ramai yang akan mendaki gunung serta berpetualang di alam bebas.

                 Banyak hal yang harus dilakukan sebelum mendaki gunung, Salah satunya harus mengetahui keadaan medan yang akan dilalui serta berapa lama perjalanan yang akan ditempuh. Disinilah proses belajar itu dimulai, dimana kita mencoba memahami tempat yang akan dilewati walaupun kaki kita belum pernah melangkah kesana sebelumnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui keadaan medan yang akan ditempuh adalah mencari informasi melalui mereka yang pernah kesana sebelumnya atau melalui informasi media cetak seperti buku dan elektronik seperti internet. Diperlukan ketelitian dalam menyusun rencana perjalanan, agar semua dapat berjalan secara sistematis dan tidak terjadi kesalahan-kesalahan yang tidak diinginkan bahkan dengan perencanaan perjalanan yang buruk dan tidak teratur dapat mengakibatkan kematian pendaki. Maka dari itu setiap pendaki harus lebih mengutamakan safety procedur tidak hanya berambisi ingin segera sampai ke puncak namun persiapan sangat minim, hal demikianlah yang seharusnya dihindari oleh seorang pendaki. Disinilah sebuah penghargaan terhadap hidup jelas terlihat. Melewati sebuah medan yang cukup berbahaya bahkan dapat merenggut nyawa namun dengan perencanaan dan perlengkapan yang matang, seorang pendaki dapat dengan mantap melangkah menuju puncak idaman.

                 Sebelum kaki melangkah menuju puncak, kita kan menemukan sebuah perkampungan yang terletak tidak jauh dari lokasi dimana sebuah gunung gagah berdiri. Perkampungan yang sarat dengan kehidupan sederhana bahkan terkadang mengalami kekurangan namun mereka tetap tidak melupakan budaya bangsa Indonesia yang telah lama hilang di kota yaitu, gotong royong dan kekeluargaan. Sangat kental terasa budaya itu masih dianut oleh tiap-tiap penduduk kampung. Sifat yang ramah tamah. Mereka tidak sibuk mengejar materi dengan melupakan tetangga bahkan keluarga, mereka menjalin hidup dengan keterbatasan yang mereka miliki namun masih ingin berbagi dan tolong menolong. Potret kehidupan kampung ini sangat membekas untuk tiap-tiap pendaki yang meresapinya bahkan ketika mereka kembali ke kota. Keinginan untuk menjalani kehidupan perkampungan yang sederhana itu sangat kuat, namun pengaruh dari luar serta sulitnya keadaan ekonomi membuat rakyat kita lupa untuk saling berbagi dan tolong menolong.

                 Ketika mulai mendaki banyak cobaan yang akan ditemui oleh seorang pendaki seperti rasa capek, dingin, mengantuk, serta rasa ingin menyerah yang jika diikuti akan meninggalkan sesal yang mendalam tapi disinilah proses penempaan itu. Seorang pendaki gunung yang menempa dirinya dengan kehidupan alam bebas yang buas namun bisa sangat bersahabat jika kita benar-benar mencintainya. Dalam proses ini pendaki belajar bagaimana bertahan hidup dengan perlengkapan seadanya serta bagaimana cara membangun kerja sama team yang solid jika pendakian dilakukan oleh lebih dari satu orang.  Ego harus dibuang jauh –jauh karena sama sekali tidak akan membantu proses pendakian, bahkan malah memperkeruh keadaan. Para pendaki juga belajar untuk saling berbagi, berbagi tenda yang sempit, berbagi makanan yang seadanya serta saling tolong menolong jika salah satu sedang mendapat kesusahan. Namun sesulit apa pun yang mereka dapatkan perjalan itu tetap terasa nikmat dan akan sangat indah jika dikenang dan mulut-mulut para pendaki yang mengatup menahan dingin akan berguman “Terima Kasih Tuhan Atas Nikmat-Mu.”

                 Puncak adalah tujuan seorang pendaki gunung, ketika mereka menapaki puncak tersebut akan didapati pemandangan yang begitu luar biasa. Lukisan alam dari seorang pelukis ternama pun tak dapat menyamai keindahan lukisan sang Maha Agung yang nyata ini. Panorama yang akan menimbulakan rindu di setiap hati yang melihatnya. Awan dapat terlihat dengan menundukan kepala ketika kita berada dipuncak. Mulut pun tak hentinya mengucapkan kekaguman akan keindahan alam ciptaan Tuhan Sang Pemilik Kehidupan.

                 Hendry Dunnant pernah berkata “tidak akan hilang pemimpin suatu bangsa jika pemudanya masih ada yang suka masuk hutan, berpetualang di alam bebas dan mendaki gunung.” Tampaknya Bapak Pandu Dunia ini sangat mengerti bahwa bergiat di alam bebas ini akan membentuk pribadi seseorang yang menghargai hidup, pribadi yang menampakan ciri-ciri seorang pemimpin serta karekter-karekter lainnya yang peduli terhadap lingkungan, masyarakat bawah dan sanggup bertahan dengan cobaan yang datang dan mampu memanjemen perjalanan dengan baik dan sistematis agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

                 Hendaknya para pemimpin bangsa ini berkenan untuk mendaki gunung setidaknya berekreasi di alam bebas di sela-sela kesibukan yang padat untuk melihat bagaiman kondisi rakyat yang berada ditangannya dari dekat melalui sisi yang berbeda, atau setidaknya mencoba meresapi kata-kata Soe Hok Gie diatas. Sedangkan generasi muda yang seyogyanya pewaris peradaban dan pemegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini harusnya bisa menikmati alam yang ditempatinya dengan melewati proses yang semestinya memang harus dijalani sekaligus menjaganya dan melindunginya. Karena mendaki gunung dan berpetualang di alam bebas membentuk seorang pemimpin yang berkarakter yang peduli kepada rakyatnya

Jumat, 23 Desember 2011

aku diam

terhenyak aku mendengar kabar itu
marah, kecewa.......aku diam
kembali aku terasing sendiri
menikmati bait-bait kenangan denganmu
yang tidak akan terulang lagi

kembali aku menikmati bintang di sana
teringat tawamu, senyummu
merekah menabur rindu
menikmati syair diam di malam itu
mengadu aku pada bintang tentang rasaku

tanpa kata semuanya berlalu
meninggalkan jejak serpihan rindu
membuyarkan sebuah mimpi
aku diam, diam sang pemberontak
diam sang waktu.......

mencoba mengumpulkan serpihan-serpihan rindu itu
tapi untuk apa?
ini bukan akhir, bintang itu memang tertutup awan
tutuplah slamannya pintaku
biarlah aku menikmati bulannya saja
terang dan mampu menembus awan
dan tidak akan pernah bosan membagi terangnya

Sabtu, 17 Desember 2011

Cerita Seorang Ibu

Tangannya yang berkeriput, menandakan seorang pekerja keras, yang menjadi saksi perjuanganmu yang luar biasa. Tatapanmu lembut, menandakan sisi keibuan yang penuh kasih sayang. Ketawamu khas, berkarakter, menandakan kerendahahn hati dan selalu ceria. Kau bercerita tentang hari-hari berat yang sudah kau jalani, tentang perjuanganmu menjaga, merawat dan membesarkan 3 anakmu tanpa seorang laki-laki yang mendampingimu.

Kau tetap bekerja sendiri, berkawan dengan kesabaran untuk membiayai anak-anakmu yang menimba ilmu diperantauan. Membanting tulang untuk masa depan mereka. Bahkan ketika anak bungsumu terbaring karena penyakit yang menggrogoti kau masih kuat bertahan dan bersabar, walaupun kau hampir putus asa dengan takdir yang jalani. kau sanggup menjalani ujian itu.

Aku mendengar perjuanganmu, kesabaranmu, keteguhannmu, bahkan aku terhanyut didalamnya, seolah-olah aku bagian dari cerita itu. Kau wanita perkasa, mampu bertahan di tengah badai kehidupan, bahkan hantaman badai itu tidak mampu mengkikis keteguhan perjalananmu. Kau adalah bagian dari ibu-ibu yang ada di muka bumi ini selalu berjuang untuk anank-anaknya, membesarkan dan merawatnya dari belaian kasihmu, yang tidak akan pernah melupakanmu, bahkan di setiap hembusan nafas kami, kamu slalu ada.....IBU.

Sabtu, 12 November 2011

Jiwa Liarku

Jiwa-jiwa liarku berteriak
Menembus dinding kemapanan
Ingin merobohkan sistem keangkuhan
Aku sendiri tak sanggup menahannya

Darah petualangku kembali bergelora, mendidih
Meneriakan sebuah perjalanan panjang, yang menembus batas-batas fatamorgana
Melihat dari dekat sebuah kehidupan
Dipelosok negeri di sudut langit
Belajar arti sebuah nilai

Ternyata sistem yang ada, dinding yg tebal ini
Tak mampu menahan jiwa-jiwa liarku
Dia akan trus mengembara meneriakan sebuah perjalanan panjang

Biarkan aku jalani ini semua
Jangan pernah membelengguku
Karena aku akan siapkan sebuah pemberontakan
Dari jiwa-jiwa liarku
Dari darah-darah petualang
Yang mengalir dalam nadiku
Yang slalu menuntut untuk terbang bersama angin...

Sabtu, 28 Mei 2011

Surat untuk calon istriku tercinta

Sekarang waktunya terlelap
Tapi aku masih terjaga memikirkanmu di sana
Kita terpisah oleh ruang dan waktu

Calon istriku tercinta
Jalan kita masih panjang untuk sebuah penyatuan
Tidaklah mudah untuk sampai ke sana
Badai itu pasti datang, cepat atau lambat, besar atau kecil
Hanya sebuah kedewasaan pola pikir dan sikap  yang mampu menghalau badai itu

 Calon istriku tercinta
Kita sama-sama belum dewasa dalam berpikir dan bertindak
Tapi kita berjalan ke arah sana, kedewasaan
 karena itu adalah proses yang mesti di jalani
sebuah metamorfosis

calon istriku tercinta
ketika amarah menghampiri kita
maukah salah satu di antara kita untuk bersabar?
Meredam ego untuk sebuah jalan yang panjang
Bahkan ketika pundi-pundi kesabaran kita sudah habis
Maukah di antara kita untuk tetap tenang dan mengingat Tuhan?
Mencari jalan keluar dari setiap masalah dengan bimbingan Ilahi

Calon istriku tercinta
Saat bahagia itu datang
Maukah di antara kita untuk saling mengingatkan
Untuk tetap berjalan di koridor Sang Khalik
Agar tetap membumi sebagai hambaNYA

Calon istriku tercinta
Marilah kita sama-sama memantaskan diri
Menuju penyatuan yang sesungguhnya
Semoga Allah meridhoi jalan kita
Amien......................


Rabu, 25 Mei 2011

cinta yang sesungguhnya

Pernah merasa kehilangan? Kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupmu? Kehilangan yang aku rasakan beda dengan kehilangan yang aku rasakan ketika kehilangan pacar atau dompet yang isinya uang jajan aku selama satu bulan ketika kuliah dulu. Ya, aku kehilangan seorang ayah, orang yang paling berpengaruh dalam hidupku. Dia pergi untuk selamanya, tepat tanggal 15 januari 2011 kemarin, meninggalkanku dengan ajaran-ajarannya yang masih menjadi jalan hidup yang aku pilih. Menangis, hanya itu yang bisa aku lakukan, aku ingin protes sama Tuhan, menurutku itu wajar kalau aku protes, toh Tuhan pasti dengar dan tahu kenapa aku protes, bukankah Dia Maha Tahu dan Maha Mendengar?

Kenapa telalu cepat kau panggil Ayahku, masih banyak mimpiku yang belum tercapai dan dia belum melihatnya. Orang-orang di sekitarnya masih membutuhkannya, bukan hanya kami sekeluarga. Bahkan tanda-tanda akan kepergiannyapun tidak Engkau berikan kepadaku, Kenapa? Sepertinya Engkau merampas kebahagian ini semua, secara mendadak, bahkan melihatnya untuk terkahir kali tidak Engkau ijinkan, apalagi berbicara dan bertatap muka. Kenapa? Engkau Maha Kuasa, dan aku tidak kuasa menahan itu, tapi kenapa Ayahku yang Engkau panggil terlalu cepat......aku protes atas Kebijakan Engkau Sang Khalik.

Lama aku merenung dan mencari jawaban sendiri atas pertanyaan itu karena aku yakin, Tuhan tidak akan menjawab secara langsung pertanyaanku, karena aku hanyalah HambaNYA......

Suatu saat aku teringat akan sebuah cerita, bahwa Nabi Yahya meninggal saat bersembunyi dalam sebuah batang pohon, dia bersembunyi dari kejaran seorang raja yang zolim kepada Allah SWT, Nabi Yahya menyeru kepada jalan kebenaran, tetapi karena raja itu zolim dan tidak menerima ajaran Nabi Yahya, maka dia memerintahkan anak buahnya untuk mencari Nabi Yahya dan membunuhnya, Nabi Yahya lari dan bersembunyi di dalam pohon besar yang atas ijin Allah pohon itu terbelah dua sehingga Nabi Yahya bisa bersembunyi dalam pohon itu, tapi ada yang melihat kejadian itu dan langsung menyuruh anak buah raja yang zolim itu untuk menebang dan membelah pohon itu, akhirnya Nabi Yahya ikut terpotong. Saat mendengar berita kematian anaknya, Ayah Nabi Yahya yang juga seorang Nabiullah, protes dan bertanya, Hai Tuhan kenapa terlalu cepat engkau panggil anaku? Akhirnya turun lah firman Tuhan, sesungguhnya Allah mencintai Nabi Yahya, maka dengan itu Allah memanggilnya untuk kembali kepadanya (kira2 seperti itu, maaf, aku kurang tau dan kurang hapal dalil dan ceritanya, tapi intinya kurang lebih seperti itu, mohon kepada yang lebih mengerti dan mengentahui cerita itu untuk membenarkannnya dan aku akan sangat berterima kasih).

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Buraidah bahwa Nabi SAW bersabda : Seorang mukmin itu meninggal dengan kening basah....Hadits ini juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi yang mengatakan sebagai haidts hasan....Dalam riwayat Baihaqi dan Ath Thabrani yang bersumber dari Abdullah bin Mas'ud disebutkan bahwa kematian seorang mukmin itu ditandai dengan kening yang basah....Dosa - dosanya yang masih tersisa diseka saat akan meninggal dunia.

Dua sumber tadi akhirnya menghibur hatiku, bahwa kepergiannya atas kehendakNYA, mungkin itu makna cinta yang sesungguhnya, cinta kepada Tuhan, cinta hamba kepada TuhanNYA adalah cinta yang tertinggi, dan bagi yang pencinta siap-siaplah kehilangan orang yang di cintai. Toh cinta kepada Tuhan adalah manifestasi cinta yang sesungguhnya, meleburkan diri bersama Sang Khalik, bahwa semua pasti akan kembali. Ntah itu wujud cinta kepada Sang Khalik atau memang sudah waktunya, yang pasti kematian itu pasti akan datang, cepat atau lambat, itu adalah takdir yang mesti di jalani. Senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, perpisahan dengan orang yang tercintai pasti akan terjadi, toh aku yang sangant membenci perpisahan tetap harus menerima itu, mungkin memang Tuhan mencintainya, karena setau aku, Ayahku juga sangan mencitai TuhanNYA. Itulah makna cinta yang harus dan mesti aku pahami.

Apalagi ketika aku tanya sama orang yang ada di dekatnya ketika Ayahku meninggal, ya, kening dia basah, berpeluh seperti habis makan weunak... Ayahkupun pernah bilang, seorang mukmin meninggal dengan kening yang basah, ternyata itu jalan yang dipilihnya untuk menemui TuhanNYA. Aku ikhlas menerima kepergiannya untuk selama-lamanya, suatu saat Tuhan mempertemukan kita lagi dalam keabadian yang sebenarnya.

Hari ini, seandainya Ayahku masih hidup, dia tepat berusia 67 tahun. Selamat jalan Ayahanda tercinta, Engkau telah duluan menemui Tuhanmu, meninggalkan sejuta kenangan untuk anak-anakmu dan yang pernah mengenalmu. Engkau telah meninggalkan dunia yang penuh tipu daya, dunia kematian kata Syek Siti Jenar yang menyebut dunia ini adalah alam kematian.




Kamis, 05 Mei 2011

Berjalan di Jalan Alam

Berjalan bersama waktu
Merobohkan angkuh dalam diri
Memandang luas panorama
Terbentang membentuk peradapan
Dalam luas karya-Nya

Sisi gelap dalam diri
Hilang dengan sendirinya
Ketika ku berjalan menembus waktu
Menggali sisi keindahan
Dari setiap panorama

Berjalan dan trus berjalan
Menuju proses pembelajaran
Dari alam untuk kehidupan
Berusaha merobohkan tembok fatamorgana
Yang terbentuk karena kebodohan

Aku akan trus berjalan
Mengenali siapa aku
Menebarkan benih-benih kecintaan
Pada karya Tuhan

Sumbing Mount, 2008